Bonus foto Mimoy kucingku yang baru saja dilahirkan oleh Mimin.

Sudah lama tidak menulis. Sedikit bingung harus memulai dengan gaya bahasa yang seperti apa. Jika dengan bahasa tutur, aku ingin mengatakan: Cuk, aku benci sama diriku yang selalu berpikir berlebihan terhadap hal-hal kecil!

Sekecil apa? Sesepele apa? Sekecil perubahannya dalam berbicara dan bertindak. Sesepele dia mengikuti perempuan lain di media sosial. 

“Aku follow orang yang penting-penting aja. Akun akun yang berkaitan erat dengan pekerjaan dan cita-cita,” ucapnya kurang lebih begitu pada suatu malam entah malam apa, aku lupa.

Aku baru menyadari satu hal. Beberapa menit yang lalu aku membuka akunnya. Melihat pada urutan pertama story seorang perempuan. Bukan akunku tentu saja. Kalian tahu apa yang ada di benakku? 

“LOH KOK ADA STORY CEWEK LAIN? KATANYA GAK MAU FOLLOW AKUN YANG GAK RELATE SAMA DIA. BAHKAN SEMUA TEMEN DI-UNFOLLOW PUN TERMASUK ADIK KANDUNGNYA!”

Oh ya sudah mungkin follow akun tersebut untuk melihat referensi postingan, batinku. Lagi pula mereka satu kelompok KKN. Menariknya hanya satu perempuan itu saja yang diikuti. Anggota yang lain tidak. Ini sudah hampir jam 2 pagi seharusnya aku melanjutkan tidur. Bukannya memikirkan skenario apa yang sebenarnya sedang terjadi tanpa sepengetahuanku. 

Hal-hal sepele semacam itu kadang menggangguku. Kalau Yanto teman di SMK selalu bilang, “Suudzonmu loh Co kok guede banget!”

Pada sisi yang lain aku berkata tidak ingin mempermasalahkan hal setidak penting ini. Dia punya pekerjaan dan tanggung jawab yang menyita banyak tenaga juga pikiran. Tidak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakkan. 

Tapi kemudian aku sudah menangis meski tidak tersungkur. Menangis karena imaji di kepala sendiri. Berkali kali mengumpat dan mebangsat-bangsatkan diri sendiri karena telah memilih laki-laki yang salah. Bukan hanya itu, aku sibuk memaki maki diri sendiri karena tidak tahu caranya move on.

“Anjir aku udah gak tahu gimana caranya move on!” kasihan oh kasihan. 

Dalam hati pada sisi yang lain aku juga merasa bersalah karena telah berpikiran negatif. Mungkin sifat dan sikapku inilah yang membuatnya merasa risih dan tidak nyaman. Dia pasti akan marah. Dia pasti malas sekali menghadapiku.

Hari yang melelahkan dan malam yang tidak seru. Seharusnya aku sudah tidur dengan nyaman tapi hingga detik ini masih berjibaku dengan pikiran-pikiran liar. Sial!

EKSPEKTASI

Sebenarnya sejak awal aku sudah membentengi diri dengan tidak terlalu berharap terhadap hubungan ini. Mengingat jarak yang begitu jauh, apa yang bisa diharapkan dari seorang laki-laki dewasa yang memiliki hubungan jarak jauh dengan kekasihnya? Kesetiannya? Oh tentu itu ekspektasi yang membahayakan. Namun penghianatan tetap saja bukan hal yang mudah untuk diterima. Apalagi oleh diriku yang terlihat sangar di luar namun melow di dalam. 

Aku akan bercerita, singkat padat dan tidak jelas.

Jadi begini, beberapa waktu yang lalu aku pernah membuat pengakuan dosa kepadanya. Ada seorang pria yang sepertinya memiliki intensi khusus. Ya aku agak tertarik untuk menanggapi tapi tidak seintens itu juga sebenarnya. Perbedaan usia, latar belakang, agama dan lain sebagainya membuat aku tahu bahwa ketertarikan ini hanya murni karena ingin punya teman berbicara yang sefrekuensi. Teman yang nyata, bukan virtual. 

Kuceritakan padanya bla bla sambil menangis sampai ingusan bahwa baru saja aku ditelepon oleh pria lain. It’s not a big thing. Tapi buatku yang menjunjung tinggi loyalitas itu tetap saja salah. Kuminta kepada kekasihku yang dulunya temanku untuk kembali membuatku merasa jatuh cinta. Jangan sampai jarak ini menggoyahkan hatiku. 

Apa yang bisa disimpulkan? Aku khawatir dia balas dendam. Aku takut dia membalas kelakuanku dengan mendekati perempuan lain. Perempuan yang lebih dekat jarak rumahnya. Perempuan yang sudah dia kenal orang tuanya. 

Aku tidak akan berselingkuh. Tidak akan. Satu ya satu. Tidak ada waktu, tenaga dan pikiran untuk yang lainnya. Jika ada itu pun bukan untuk berselingkuh lebih baik untuk bekerja dan berkarya. Karena apa? Karena aku pemalas. Aku sudah terlalu lelah bekerja dan tidak punya energi untuk membagi hati. Tidak punya daya untuk hal itu. 

Jika mulai merasa orang lain di sekitarku menarik, aku akan mengingat betapa kekasihku begitu baik dan pengertian. Aku tidak ingin menyakitinya sebagaimana aku tidak ingin dia menyakitiku.

Aku lupa mau menulis apa. 

Market 

Market sedang tidak baik baik saja. Mungkin saat ini portofolio kekasihku banyak yang merah. Hal itu berimbas pada bagaimana perasaannya. Mood nya mungkin saja terdampak. Menjadi lebih pemarah atau pendiam. Sepanjang hari mengawasi pasar modal. Aku khawatir dia bisa sakit jiwa jika terlalu berlebihan. Aku benar benar mengkhawatirkan kesehatan badan dan mentalnya. Meski aku yakin dia tidak selemah itu.

Jika market tak kunjung membaik, aku tidak bisa menyulut pertengkaran. Situasi bisa jadi sangat panas kalau suasana hatinya buruk. Hmmm aku jadi malas. 

Sepertinya aku terlihat terlalu posesif. Mungkin aku yang lebih mencintanya. Tapi bagaimana jika sebenarnya dia yang lebih mencintaiku? Jadi aku sepanjang malam ini akan berpikir siapa yang lebih mencintai satu sama lain. Dia atau aku?

Jika ternyata aku yang terlalu berlebihan, sejujurnya agak gengsi. Aku seperti sedang mempermalukan diri sendiri. Bahkan dengan kembali menulis tentang isi kepalaku di sini, aku sebenarnya sudah mempermalukan diri (lagi).

Kemungkinan lain, bila dia yang lebih mencintaiku. Hmmm tapi sepertinya mustahil. Lihat saja bagaimana dia tidak pernah bersikap posesif terhadapku! Dia bilang sudah percaya dan yakin jika aku tahu mana yang benar pun baik. Katanya, aku pasti tahu mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. 

Aku mungkin wajib belajar darinya. Bersikap percaya terhadap pasangan. Membiarkan dia hidup dan bertindak karena yakin dia tahu perbedaan hitam atau putih. Dia cukup dewasa untuk menentukan mana yang patut dan mana yang buruk. Sesederhana itu. Dia akan menjaga hati dan dirinya sendiri tanpa diawasi
“Seseorang yang bijak tetap akan bersikap baik tanpa repot-repot diawasi”
Jadi mari kita tutup overthinking malam ini dengan kesadaran bahwa setiap orang tahu kepada siapa ia harus setia. Selalu ada peluang untuk berselingkuh bagi orang-orang yang tidak bersyukur. 

Kita bertemu pada episode overthinking berikutnya…




Post a Comment

Previous Post Next Post