Ketika berkunjung ke kota tempatmu berada aku kira sejak hari itu aku sudah cukup dewasa dan rela jika kita memang bertemu hanya sebagai pembelajaran.

Aku harus memulainya dari mana? Lebih dulu menyapa atau langsung saja bercerita. Jika bercerita, apa yang akan diceritakan? Aku hanya ingin sekadar mengungkapkan hal yang mungkin takkkan terbaca oleh siapa pun.

Kau selalu datang sebagai mimpi yang sunyi. Sebagai angan yang tak pernah tergapai. Kau diam tanpa kata saat menemui.

Kita terlalu kekanak-kanakan saat memutuskan berhenti berjuang. Dan pada hari ini kita berpikir lagi, mengapa cepat kita mengambil keputusan paling menyakitkan?

Aku mengaku tidak bisa tidak apa-apa dengan perpisahan kita. Luka itu masih terasa hingga sekarang. Aku berusaha biasa saja ketika kau datang menyambangi sebagai mimpi. Tapi kemudian aku selalu terbangun dengan nafas tercekat, mengapa kau ulang-ulang datang? 

Masih tak menyangka, ternyata kita benar-benar tak lagi bersama. Kita hanyalah puing-puing dari masa lalu. Kita yang tak utuh mencoba mencari potongan lain dari orang-orang baru. Kita yang tak lagi pernah bisa saling menyapa. Kita yang tak lagi saling merepotkan.

Apakah aku belum cukup ikhlas melihatmu pergi begitu saja dari hidupku? Aku ingin berpikir kau jahat dan brengsek agar tak sudi lagi memikirkanmu. Ada hati yang harus aku jaga dengan sungguh. Sejauh ini ia begitu baik kepadaku. Ketulusanku hari ini adalah untuknya. 

Aku ingin kau tak lagi datang dalam mimpiku sebagaimana kau tak pernah hadir dalam dunia nyataku. Karena ku yakin kau tak pernah memimpikanku. Kau mungkin sudah sangat lupa. Karena dulu saat masih saling menyayangi, kita dipaksa untuk mengucapkan selamat tinggal. Dipaksa untuk saling melupa. 

Jangan datang lagi ya, melupakanmu selalu butuh usaha yang luar biasa. Jangan main-main soal datang dan pergi. Itu menyakitkan bagi sebagian orang meski hanya melalui mimpi.

1 Comments

Post a Comment

Previous Post Next Post