Mungkin inilah takdirku, garis hidup yang harus aku tekuni. Berkutat dengan nota dan sibuk berjualan sembako. 


Jangan bandingkan hidupku dengan Arta yang notabennya memang orang kota. Rumahku yang terpencil dan jauh dari ibukota provinsi membuatku merasa terbatas dan tak bisa apa-apa. Jaringan di rumahku sangat jelek. Benar-benar jelek meskipun sudah memasang antena!


Aku tidak tahu bagaimana hidupku ke depannya, tapi saat ini kenyataan yang harus aku hadapi adalah setiap hari harus berjualan. Aku tidak tahu apa itu keluar rumah selain ke Bank atau membeli sayur. Hidup yang benar-benar monoton dan menjemukan. 


Aku malas bercermin, wajahku semakin kusam dan jelek. Aku tidak mau melihat story orang lain karena yang ada hanya rasa iri. Aku iri kepada mereka yang hidup di kota. Mereka hidup di lingkungan yang sumber daya banyak tersedia. Bukan hanya aku yang terkurung di rumah. Terbatas.


Aku tahu banyak orang iri denganku. Mereka ingin memiliki apa yang aku miliki, dan di sini aku kebingungan bagaimana menjaga agar apa yang aku miliki tidak lenyap begitu saja.


Aku harus bekerja. Dan secara tidak mengejutkan kedua orang tuaku tidak mengizinkan aku bekerja di Semarang. Ah sudahlah, aku kehilangan selera membahas itu.


Sebenarnya ada tiga hal yang membuatku tidak betah di rumah; jaringan, air dan orang asing.


Aku benar-benar emosi dengan jaringan di daerah ini. Menyebalkan. Sangat buruk!


Air di rumahku sangat kotor, membuatku kulitku yang sensitif gatal-gatal. Sehari aku hanya mandi sekali karena bukannya makin segar setiap habis mandi badanku malah cekit-cekit.


Aku tidak bilang membenci orang itu. Aku hanya tidak suka melihatnya, itu saja. Aku tidak terbiasa di rumahku kedatangan orang asing. Aku berdoa semoga mereka cepat membangun rumah untuk keluarga kecil mereka. Aku kasihan kepadanya tapi aku juga tidak suka dia ada di sekitarku. Aku ingin dia enyah. Apakah aku jahat? Iya aku jahat aku tahu itu. Aku sudah menahan diri untuk tidak melakukan apa pun agar tidak ada karma di kemudian hari. Bagaimana pun juga, dia tak punya siapa-siapa di sini selain kami. 


Aku bisa hidup dengan nyaman di kota. Mendapatkan semua kebutuhanku dengan mudah. Tapi aku perlu uang untuk mendapatkan semua itu. Ketika di rumah aku kesulitan mendapatkan ini itu tapi aku punya uang. Aku tidak takut kelaparan.


Untuk menyiasati kebosanan, aku menyarankan agar Ibun membeli pick up untuk mengantar barang ke pelanggan. Dengan begitu aku bisa keluar rumah. Aku jenuh kalau hanya dia di dalam cangkang telur yang sempit.


Tentang kuliah aku sudah tida terlalu peduli. Aku cukup tahu diri kalau aku tak sepintar mahasiswa lain. Aku tidak cocok menjadi orang akademisi. Aku lebih cocok jadi orang yang bekerja untuk menghasilkan uang. Sudahlah aku malas membahas kuliahku.


Tentang hubungan asmara, aku tidak tahu apakah berjodoh dengannya. Ibuku berat hati jika harus melepasku—ia tidak rela aku dibawa ke Jawa. Terlalu jauh jarak membentang ujarnya. Aku juga yakin ia tak mau tinggal di sini. Emaknya tak mungkin mengiyakan. Lagi pula dia sudah bilang ingin hidup di perkotaan. 


Aku tidak tahu bagaimana cara mengakhiri hubungan ini. Rasanya sesak sekali. Jika saatnya tiba—semoga aku sudah dewasa mengontrol rasa. Semoga tidak terlalu menyakitkan.


Tidak ada kepastian kapan aku akan bertemu lagi dengannya. Tidak ada jaminan apakah aku bisa hidup bersama dengannya. Heuh entahlah ini terlalu berat untuk dibahas.

Post a Comment

Previous Post Next Post