Ada adagium, semacam dalil aqli, bahwa kehidupan di dunia ini hanya perpisahan demi perpisahan. Semua hal bisa berpisah kecuali perpisahan itu sendiri. Itulah keniscayaan. 

Berpisah bisa dikarenakan alasan kepentingan masing-masing dan bisa disebabkan karena kematian. Jika disebabkan kematian, tak seorang pun tahu kapan akan ditinggalkan. Kematian menjadi perpisahan paling menyakitkan karena tak tahu apakah bisa bertemu kembali atau tidak. Dahulu kenangan tak banyak orang yang mengabadikan momen kebersamaan. Sekarang sudah banyak orang yang tak ingin melewatkan momen kebersamaan begitu saja tanpa mengabadikannya baik dengan gambar maupun video. Dengan perkembangan teknologi, yang dahulu sulit untuk mengabadikan seseorang, sekarang menjadi sedemikian mudah. 

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, sebagian orang menjadi lebih gemar untuk berfoto dan membuat video melalui kamera profesional maupun ponsel pintar. Di antara bunyi lirik lagu Andmesh, Hanya Rindu, merindukan seseorang yang tak pernah bisa kembali begitu menyesakkan. Hanya bisa memandanginya melalui foto dan video. Setidaknya Foto dan video bisa sedikit mengobati kerinduan di hati, atau justru memperparah rindu?

Ada orang-orang yang mudah galau, bersedih dan menangis karena tak sanggup menghadapi perpisahan. Baginya perpisahan adalah mimpi buruk. Tak pernah siap berpisah, padahal selain berpisah dengan orang lain dengan waktu yang terus bergulir bukankan seseorang telah berpisah dengan dirinya sendiri di masa lalu? Ini hari Kamis, maka ia telah berpisah dengan hari Rabu dan bersiap untuk bertemu hari Jumat. 

Dahulu, orang-orang yang terpisah oleh jarak hanya bisa saling mengirimkan surat. Jauh sebelum teknologi telepon ditemukan. Namun sekarang dengan adanya Internet dan munculnya berbagai sosial media, jarak bukanlah persoalan besar. Komunikasi tetap bisa terjalin kapan pun dan di mana pun asal ada kuota atau pulsa. Distance means nothing. 

***

Salah memahami hal apa saja yang bisa diunggah di sosial media juga berdampak pada hilangnya ruang privat. Semua hal dijadikan konten tak peduli tabu atau tidak yang penting mendapatkan perhatian. Karena tak semua orang mementingkan privasi apalagi jika ada duitnya mengapa tidak? Mengumbar apa pun menjadi hal wajar yang lama-kelamaan mungkin akan membudaya. 

Bersikap tertutup dan tidak terlalu banyak mengumbar di sosial media dianggap kuno dan hidupnya lempeng--tidak seru. Meski, faktanya bisa sebaliknya. Banyak orang beradu untuk menampilkan sisi terbaik bahkan tak jarang mempublikasikan duka kesedihan dan masalah pribadi yang dulu sangat tabu jika sampai orang lain tahu. Namun kini banyak hal telah berubah. Contohnya, aib keluarga seperti perceraian dan perselingkuhan dulu hanya diketahui oleh diri sendiri dan lingkungan terdekat, tetapi kini perceraian dan perselingkuhan telah menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Selalu ada kabar dari Si A dan Si B yang bercerai atau berselingkuh. Sekarang, hal-hal semacam itu disiarkan seolah seluruh dunia harus tahu. Perubahan itu dipahami sebagai pergeseran nilai-nilai yang ada. Perpindahan dari ruang privat ke ruang publik. 

Reaktif adalah sikap adaptif, tetapi tidak efektif. Seperti baru sadar arti penting api kecil justru saat kebakaran. Dalam urusan berinteraksi di sosial media juga begitu. Mempublikasikan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya. Namun ketika apa yang telah diunggahnya menuai kontroversi dan mendapat banyak kecaman barulah muncul penyelesaian. Setelah mendapat perhatian berupa hujatan dari publik kemudian meminta maaf, mengakui kesalahan, dan mengungkapkan penyesalan. Membuat konten kontroversial lalu memberikan klarifikasi begitu seterusnya. Banyak orang melakukan kesalahan yang serupa untuk mendapatkan popularitas sesaat. 

Itu persis seperti kemauan selebgram berikut ini. 

Suatu hari, selebgram memanggil para asisten. Dia hendak memastikan mendapatkan banyak pengikut di Instagram dan Subscriber di Youtube. Dia bertanya, kepada asisten, "Apakah followersku kini masih setia kepadaku?"

Asisten sepenuh mantap, tanpa mendasari diri dengan pengetahuan yang akurat menjawab, "Followersmu masih setia dan selalu mendukungmu."

Sang selebgram pun tersenyum. Untuk meneguhkan diri, dia bertanya kepada punggawa urusan konten seperti prank. "Bagaimana? Kita sering mengunggah konten prank. Apakah followers dan subscriber menghujat hal itu?"

"Tidak ada hujatan, Bos. Bahkan mereka merasa berterima kasih atas tontonan prank itu." 

"Apa nalarnya?" tanya selebgram atas jawaban yang tampak ganjil dan musykil itu. 

"Mereka menjadi lebih kreatif dalam mengerjai orang lain. Mereka sangat terhibur melihat orang yang tertipu. Mereka suka melihat konten yang katanya real padahal setingan. Bukankan Bos tahu masyarakat kita suka sekali membodohi orang lain?"

Sang selebgram pun tersenyum lagi atas jawaban si asisten yang tampaknya tak berakal itu. "Sekarang aku akan tanya tentang followers dan subscriber yang suka konten yang berpura-pura jadi orang gila ternyata mau bagi-bagi harta. Adakah yang curiga kalau semua itu hanya rekayasa? Sehingga mereka mempersilahkan orang gila masuk ke rumah dengan harapan diberi hadiah, namun kecewa karena salah orang.

Asisten yang pandai bersilat lidah menjawab, "Betul, masih banyak pengikut Bos yang memasukkan orang gila ke rumah mereka dengan harapan imbalan. Namun Bos tidak usah khawatir. Kenapa? Karena meski mereka tak mendapatkan hadiah yang diharapkan, mereka tetap bahagia. Orang-orang itu pandai menghibur diri. Kata mereka, Tuhan yang akan membalas kebaikannya. Lalu mereka akan mengunggah itu untuk dijadikan konten agar viral, membuatnya menjadi sedemikian rupa, entah dijadikan lelucon atau berniat menjual rasa kemanusiaan untuk memperoleh engagement."

Mengapa begitu?

"Karena konten-konten membantu orang lain selalu laris manis di pasaran. Tak peduli itu sungguhan atau hanya untuk menarik perhatian dan menyombongkan diri secara terselubung."

Sang selebgram pun tersenyum untuk kali kesekian, tanpa timbul rasa malu. "Lalu bagaimana dengan kita yang selalu memamerkan harta dan selalu melakukan settingan ketika membantu orang lain?"

Asisten yang berurusan dengan urusan pencitraan menjawab dengan senyum miringnya. "Bos tahu ada malaikat Rakib Atid yang mencatat semua amal buruk manusia?"

"Ya, tahu. Lalu kenapa?"

"Sekarang tak cukup kedua malaikat itu yang mencatat perbuatan Bos. Sudah ada sosial media dan netizen yang harus mengetahui, mengingat, dan juga menuliskan data semua perbuatan kita."

Miris!

*Terinspirasi dan meniru esai "Silih Berganti" dalam buku Beragama(a) itu Indah yang ditulis oleh Prof. Dr. Mudjahirin Tohir, M.A.

Post a Comment

Previous Post Next Post