Sepulang dari mengunjungi Bapak, aku berniat mampir makan ke warung soto Buk Mul tapi sudah tutup Pak. Jadi kami makan bakso Bang Yos. 

Pak, aku mendapatkan pekerjaan itu. Entah bagaimana ke depannya, setidaknya aku mau belajar. Mental juangku harus diasah ya kan? Karena untuk menikah dengan anakmu nanti tentu banyak cobaan yang harus kami hadapi. 

Sore tadi Kakak bercerita tentang dirimu Pak, aku menahan sesak di dada. Aku ingin menangis, tapi aku tahu itu bukan saat yang tepat. Itu bukan respon yang sesuai. 

Aku sudah membeli beberapa buku dan akan menyelesaikannya. Semoga toko yang Bapak tinggalkan bisa terus berjaya. Setidaknya anakmu sudah ada yang mau mengelola. 

Aku akan tetap menulis Pak, untuk menumpahkan keluh kesah. Untuk bercerita dan mengabadikan ingatan dalam tulisan. 

Anakmu yang nomor empat berusaha bangkit dari keterpurukannya. Dia selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Aku khawatir dia akan menyimpan semua beban sendirian. Bagaimanapun juga dia butuh teman. Dia agak keras kepala, aku merasakan emosinya sedang tidak stabil. Dan aku belum tahu bagaimana cara membuatnya tenang. Aku tidak yakin bisa membuatnya merasa nyaman dan tenang saat naik pitam. Aku ragu apakah aku bisa menurunkan amarahnya. Tidak, aku tidak bisa membuatnya menahan emosi, karena hanya dia sendiri yang bisa melakukannya. Aku hanya akan mengiringinya. 

Mental juangku yang pas-pasan ini harus segera naik kelas. Belajar dengan orang-orang baru. Semoga aku bisa bertahan. Hidup ini rekoso bukan?

Post a Comment

Previous Post Next Post