Setidaknya aku punya Arta yang selalu menjadi tempat mencurahkan kesah. Satu-satunya teman dengan frekuensi sama sehingga bisa membicarakan apa saja. 

Hari ini di luar dugaan, ketika menelepon Ibun bertanya bagaimana pendapatnya tentang aku yang diterima bekerja sebagai admin ternyata ia memberikan izin. Bahkan Ibun memberikan semangat dan dukungan. 

"Dulu waktu masih muda Ibu melamar kerja di Blambangan ternyata diterima. Jadi pagi sampek siang ngajar di sekolah terus lanjut kerja sampek sore. Kerja keras sejak muda untuk pengalaman," kisahnya. 

Aku jadi terharu. Ibun bilang aku jangan terlalu mempersoalkan gaji, diniati belajar dan mencari pengalaman begitu pesannya. Ibun mengingatkanku pada ucapanku sendiri di masa lalu jika aku ingin bekerja di suatu tempat untuk mencari banyak pengalaman. 

Ilmu bisa didapatkan dari mana saja. Kita harus berani keluar dari zona nyaman. Selama ini aku terlalu memanjakan diri. Merasa mudah lelah dan tidak mau menanggung beban berat. Selalu lari dan menghindar dari masalah. Tidak ingin memikul tanggung jawab karena tak mau repot. Mungkin sudah saatnya aku belajar menjadi dewasa dan tak lagi manja.

Malam ini pengajian 7 hari Bapak. Aku sadar beliau bukan Bapakku, tapi entah mengapa kepergiannya juga mempengaruhi psikologisku. Aku merasa hidupku berubah sejak Bapak tiada. Aku merasa bahwa sudah saatnya aku mengarungi derasnya sungai kehidupan. Aku merasa kepergian Bapak adalah isyarat bahwa aku tak boleh lagi membuang-buang waktu percuma. Kepergian Bapak berarti banyak untukku. 

Aku juga heran, bagaimana bisa seseorang yang belum kukenal sama sekali begitu berdampak bagi pemikiranku. Aku tidak bisa menjelaskan kepada orang lain bahwa kepergian Bapak menyisakan duka mendalam bagiku. Rasanya terlalu cepat Bapak berpulang padahal kami belum sempat berkenalan. Padahal aku juga tidak yakin apakah Bapak mau menerimaku dengan baik. Aku ragu apakah Bapak mau bersikap ramah kepadaku. Tapi hingga kutulis ini, aku masih menangis mengingat Senin lalu Bapak telah pergi  ke pangkuan Sang Kholiq.

Bapak apa kabar? Apakah di sana baik-baik saja? Apakah doa-doa kami sampai kepadamu Pak? Apakah kami kurang banyak mengirimkan doa? Tapi bisakah doaku yang bukan siapa-siapanya sampai kepada Bapak? Aku bukan anaknya. Aku hanya teman dekat dari salah satu anak laki-lakinya yang nomor empat. 

Pak, kalau aku diam-diam datang ziarah ke makam Bapak apakah boleh? Aku masih ingat jalannya. Kebetulan ketika les menyetir aku lewat daerah sana. Pak, bagaimana menjelaskan ketika ada yang bertanya mengapa aku begitu merasa kehilangan? Padahal jelas aku hanyalah orang asing. Sungguh Pak, aku tidak bisa menjelaskan. 

Aku tidak sedang mencari perhatian anakmu Pak, sungguh. Aku bukan ingin cari muka. Aku bukan ingin dipuji atau apalah. Aku hanya merasa benar-benar kehilangan. Aku bersedih namun sadar dunia ini hanyalah sementara dan kita semua akan kembali kepada sang pencipta. 

Alfatihah untukmu kukirimkan setiap mengingatmu. Bahkan sejak awal hubunganku dengan Kakak, aku selalu mengirimkan fatihah untukmu dan Emak. Apakah itu yang membuatku merasa dekat denganmu Pak? Atau aku yang terlalu berlebihan dalam berempati. Tapi ini bukan hanya sekadar perasaan berempati, ini lebih dari itu. Meski tak bisa menjelaskannya aku harap di sana Bapak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini. 

Pak, jika memang boleh besok aku ke sana ya? Mungkin aku akan mengajak Mbak PM. Aku tidak ingin siapa pun tahu. Aku yakin Mbak PM bisa menjaga rahasia. Aku ingin mengunjungi Bapak. Aku tidak akan menaburkan bunga, mungkin hanya menyiramkan air wangi agar pusaramu tetap harum. Apakah pagi hari waktu yang tepat Pak? Aku khawatir ketahuan orang lain saat ziarah. Karena ini menjelang bulan Ramadan mungkin anak-anakmu akan mengunjungimu. Aku harus cari waktu di mana tak ada seorang pun yang tahu. Hanya membacakan Yasin, tahlil dan doa untukmu. Boleh ya Pak? 

Pak, Senin lusa aku akan berdiskusi tentang pekerjaan pertamaku. Hehehe terlihat sangat ribet ya Pak? Aku memang selalu heboh dan repot dengan hal-hal yang seharusnya dibuat mudah. Apakah aku terlalu membesar-besarkan suatu hal Pak? Apakah aku terlihat heboh? Hehehe.

Kalau nanti aku tak semangat dan lelah, tolong semangati aku Pak. Biar aku tidak mengantuk saat bekerja apalagi bekerja saat puasa. Hahaha aku lemah ya Pak. 

Semangat!

Post a Comment

Previous Post Next Post