Sampai detik ini aku masih tidak menyangka. Aku memang bukan siapa-siapa baginya, tapi entah mengapa kepergian Bapak seperti mimpi buruk bagiku. Jika bagiku yang hanya orang asing kepergian Bapak adalah mimpi buruk apalagi bagi keluarganya?

Kakak sering bercerita tentang Bapak. Belakangan tentang kesehatan Bapak yang naik turun. Hingga puncaknya (Minggu/04/04/) Bapak dibawa ke rumah sakit. Dan Senin pagi berita duka itu sampai kepadaku. 

Malam itu aku begitu semangat bangun untuk salat tahajud, padahal biasanya malas-malasan. Setelah salat berdoa untuk Bapak dan keluargaku sendiri. Sedekah subuhku kali itu pun khusus meminta kesehatan bagi Bapak. Ya, Bapak memang sudah sehat. Allah lebih sayang kepadanya dan memanggil Bapak untuk kembali. 

Setelah salat subuh sebenarnya aku ingin mengirimkan pesan untuk Kakak, tapi aku undur-undur karena takut mengganggu sampai akhirnya ketika aku hendak membuka Whatsapp pemberitahuan pesan masuk darinya lebih dulu muncul. Pesan dari Kakak membuatku menangis seketika, aku sesenggukan dan sulit bernapas. 

Kalimat "Bapak, udah gak ada," selalu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku selalu menangis setiap mengingat itu. Jujur aku tidak tahu mengapa air mata terus menetes padahal aku tidak ingin menangis, sudah kukatakan kepada diri sendiri, "Kamu ini siapanya? Mengapa sesedih itu? Kamu ini belum menjadi bagian dari keluarganya. Kamu hanya orang asing." 

Sekeras apa pun aku menegur diri sendiri, aku tetap menangis jika mengingat wajah Bapak, Kakak dan keluarganya yang lain. Aku tahu aku berlebihan. Aku juga tidak mau begini, tapi air mataku tetap mengalir. Setiap ayat yang kubaca setelah salat magrib khusus untuk Bapak, lagi dan lagi aku menangis. Rasanya seperti tak nyata. 

Bahkan sampai hari ini aku masih menangis, tapi Ibun bilang orang yang telah meninggal jangan diiringi dengan tangisan. Aku sadar diri aku belum mengenal Bapak secara langsung, hanya melalui cerita-cerita Kakak. Melihat Kakakku kehilangan salah satu orang yang dihormati dan dicintainya membuat hatiku teriris. 

Kelemahan terbesarku adalah berlebihan dalam berempati. Aku tidak bisa melihat orang terdekat apalagi orang yang kusayangi bersedih. Aku juga tidak pernah siap dengan segala bentuk kehilangan dan perpisahan. 

Aku sempat bertemu Bapak di Rumah Sakit, saat itu Bapak sedang tidur. Setidaknya aku pernah melihat Bapak secara langsung. Meski itu menjadi yang pertama dan terakhir kalinya. Saat menuju Rumah Sakit aku hanya ingin mengantarkan makanan untuk Kakakku, karena aku yakin dia dan adiknya belum makan. Siapa juga yang bernafsu untuk makan saat orang tuanya terbaring lemah di Rumah Sakit? Iya aku tahu, tapi Kakakku butuh energi untuk menjaga Bapak. Di luar dugaan, Kakak mengajakku masuk untuk melihat Bapak. 

Dari yang kulihat, keluarga Bapak adalah keluarga yang tegar dan sederhana. Aku yang sangat cengeng ini perlu beradaptasi jika ingin masuk menjadi bagian dari mereka. Belum tentu aku dan Kakakku berjodoh, tapi setiap melihat wajahnya aku tahu jika aku benar-benar mencintainya. Aku ingin dia tahu jika dia tak akan sendirian, aku selalu berusaha menjadi teman untuknya. Aku ingin dia tahu di posisi mana pun aku akan selalu ada untuknya, sekalipun itu di titik terendah dalam hidupnya. Semoga aku tidak mencintai orang yang salah.

Melihatnya tersenyum dan tertawa malah membuatku menangis. Dia tak ingin terlihat lemah di depan siapa pun. Tapi hatiku seperti bisa merasakan apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. Atau mungkin aku hanya terlalu percaya diri.

Beberapa hari telah berlalu Bapak tak juga datang. Kami sadar, kepergianmu kali ini akan sedikit lama. Tapi Bapak tahu? Kami masih menunggu. Tidak menanyakan waktu. Hanya menunggu dengan tabah bersama kenangan yang kadang disertai gundah. Atau mungkin Bapak yang menunggu kami di atas sana. 

Kami harus ikhlas, karena kini Bapak sudah sehat wal afiat. Ini yang terbaik untuk Bapak, ia sudah tak merasakan sakit saat berjalan. Waktu akan membuat kami belajar apa arti ikhlas melepas karena hakikatnya semua yang ada dunia milik sang pencipta dan akan kembali kepada-Nya.

Post a Comment

Previous Post Next Post