Hari ini membaca buku kado dari Kakakku yang judulnya Nalar Kritis Muslimah. Dr. Nur Rofiah mengutip dari Kata Pengantar buku Argumen Kesetaraan Jender Perspektif al-Qur'an karya Prof. Dr. Nasaruddin Umar--Kata pengantar ditulis oleh Prof. Komaruddin Hidayat, MA.

Ada tiga hal yang penting tentang citra perempuan ideal dalam al-Qur'an:

Pertama, memiliki kemandirian politik (al-istiqlal al-siyasah). Perempuan tak hanya menjadi pengikut yang tunduk terhadap suatu lingkungan. Perempuan juga memiliki hak untuk mandiri secara politik bahkan kita bisa menjadi pemimpin. Sebagaimana Ratu Bilqis yang kisahnya begitu fenomenal hingga saat ini. Buka Qur'an surah al-Mumtahanah [60]: 12 dan al-Naml [27]:23.

Saat ini banyak perempuan yang memiliki kedudukan di panggung perpolitikan. Meski peran perempuan masih banyak diragukan dan dipilih hanya untuk memenuhi syarat bahwa ada persentase jumlah perempuan yang harus terlibat. Ini obrolan yang cukup panjang tak bisa selesai hanya dalam waktu semalam. 

Kedua, memiliki kemandirian ekonomi (al-istiqlal al-iqtishad). Mengapa perempuan harus bisa menghasilkan uang sendiri? Karena perempuan tak bisa hanya bergantung kepada laki-laki. Suatu saat setelah menikah perempuan tetap memiliki hak untuk bekerja tanpa melalaikan tanggung jawabnya sebagai istri. 

Perempuan selalu dituntut untuk multiperan dan di pundaknya banyak tanggungan untuk diselesaikan. Beruntung jika menemukan pasangan yang bisa memahami itu semua. Karena tak sedikit perempuan yang kehilangan jati diri setelah terikat dalam pernikahan.

QS. al-Nahl  [16]: 97 dan al-Qashash [28]:23.

Ketiga, memiliki kemandirian dalam menentukan pilihan (al-istiqlal al-syakhshiy). Pembeda manusia dengan hewan terletak pada akal. Seperti laki-laki, sebenarnya perempuan memiliki kemerdekaan untuk berpikir. Tak terkecuali perempuan, kita memiliki hak untuk menyuarakan kebenaran dan menentukan pilihan tanpa diwakili orang lain.

Bagaimana mungkin pilihan kita diwakili oleh orang yang tidak mengalami sesuatu yang kita alami? Perempuan memiliki kondisi khusus yang tidak dialami laki-laki. Bagaimana mungkin kita menggantungkan pilihan kepada mereka yang tak tahu seperti apa rasanya nyeri haid, sakit saat melahirkan dan lain sebagainya. 

Mulailah untuk berani menentukan pilihan, berpikir secara mandiri untuk mengambil langkah dalam hidup. Kita memiliki potensi yang sama dengan laki-laki, kita punya kesempatan yang sama. Ya sama. Tak ada lagi yang boleh menindas perempuan. 

QS. al-Tahrim  [66]: 11-12, al-Taubah [9]:71, an-Nisa [4]:5 & 124, dan al-Nahl [16]:97.

Allah swt tidak menilai seseorang berdasarkan suku dan gender, tetapi dari tingkat takwa. Sebagaimana termaktub dalam surah al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.


Post a Comment

Previous Post Next Post