Setelah ini aku tidak ingin jatuh cinta lagi. Aku sudah terlalu lelah untuk jatuh lalu bangkit lagi. Aku kira saat teman-temanku bilang, "Tunggu saja menginjak usia satu tahun, nanti dia juga berubah," itu sesuatu yang bisa diubah. Aku ingin membuktikan bahwa pernyataan itu salah, nyatanya dugaanku yang keliru. 

Karena belum sampai satu tahun banyak hal yang sudah berubah. 

Saat sudah terjadi sekarang aku tak takut lagi. Yang terjadi biarlah terjadi yang seharusnya berubah biarlah berubah. Aku merasa sudah cukup bisa untuk tabah. Sekarang aku tahu apa arti komunikasi hanya sekadar basa basi, hanya untuk formalitas--setidaknya sudah mengabari. 

Di kota seluas ini mengapa aku merasa sendiri? Mungkin mulai besok aku bisa memaksakan diri keluar dari ruangan ini untuk menikmati dunia yang lebih menantang. Mungkin aku harus pulang. Mungkin sudah saatnya menjadi petualang. 

Jika masih pada kota yang sama keadaannya saja seperti ini, apa yang kita harapkan saat berjauhan nanti?

Aku belum tahu apa yang bisa aku lakukan saat ini. Aku tidak punya motivasi untuk melakukan apa pun. Aku hanya menghabiskan waktu untuk mengubur semakin banyak lemak di perut. Jika terus begini aku yakin masa mudaku pasti sia-sia. 

Aku pikir kita tidak akan berhasil. Aku sudah tahu dalam suatu hubungan siapa yang paling mencintai maka dialah yang akan tersakiti. Aku tahu tapi aku tetap keras kepala dan terus mencintaimu. 

Aku belum siap meninggalkanmu, aku belum siap mengakhiri hubungan yang belakangan semakin tak jelas. Karena aku terlalu bodoh. 

Saat aku benar-benar merasa sendiri dan tak punya telinga lain untuk mendengar, aku masih punya halaman untuk menulis. Hanya menulis saat butuh saja, ketika bahagia lupa dan tak lagi mau menyapa. Seperti kacang lupa kulitnya. Tapi makan kacang dengan kulitnya juga tidak enak. Aduh apa sih?

Bisa-bisanya aku tetap bercerita panjang lebar saat telinganya tidak ingin mendengar. Seharusnya aku tahu diri. Bukannya malah sok asik. Aku bodoh sampai ke tulang belulang. 

Aku mengira dia suka mendengar ceritaku, jadi aku selalu banyak bicara mulai dari hal paling tidak perlu. Aku bodohnya melebihi batas normal ya? 

Mungkin aku harus lebih banyak bersyukur, tidak semua orang bisa bersama atau bertemu dengan orang yang mereka cintai, dan ya aku masih bisa bertemu dengannya meski satu sama lain sibuk dengan hp nya masing-masing. Bukankah tidak apa-apa? Yang penting bertemu.

Tapi mengapa harus bertemu jika dari awal sampai akhir hanya sibuk sendiri-sendiri? Tidakkah lebih baik tak perlu mengadakan pertemuan dan selesaikan saja urusan pribadi terlebih dahulu? Loh bukannya seharusnya kamu bisa menghargainya? Dia sudah rela meluangkan waktunya untukmu. Ah iya, mungkin aku harus mengubah caraku menilai sebuah kebersamaan. 

Persetan dengan tidak mau patah hati lagi pada usia saat ini, jika memang harus patah hati lagi memangnya kenapa? Jika memang harus menjalani hidup dengan menyedihkan memangnya kenapa? Ya sudah jalani saja, toh kita masih memiliki hal lain untuk dilakukan. Iya kan?

Post a Comment

Previous Post Next Post