Belakangan perceraian menghantui pikiran. Membuka explore Instagram banyak melihat kasus perceraian artis. Ada dari kalangan yang dulunya mengkampanyekan menikah muda, pacaran secara halal namun dalam kurun waktu tiga tahun rumah tangga yang dicemburi banyak orang itu bubar.

Mungkin, ketika seseorang melangsungkan pernikahan mereka tak pernah berpikir soal perceraian. Jadi setiap caption pada postingan Instagram selalu menggunakan kata-kata romantis yang seolah mereka telah menemukan cinta sejati. Tapi siapa sangka pada kemudian hari mereka harus ke Pengadilan Agama untuk mengurus perceraian. 

Hari ini, saya menemani seorang teman untuk melakukan wawancara dengan pihak Pengadilan Agama Kelas I-A kota Semarang. Dan ya, tempat itu tak pernah sepi selain pada hari libur. Setiap harinya selalu ada pasangan yang diputuskan untuk bercerai. 

Baru saja bahagia saat melangsungkan pesta pernikahan, kini salah satu dari mereka datang ke pengadilan untuk mengajukan gugatan perceraian. Banyak orang yang datang dengan usia yang variatif--usia kepala dua, tiga, empat dan seterusnya. Pertanyaan yang berkecamuk di kepala, apa yang menyebabkan mereka bercerai?

Begitu mengganggu pikiran, bisakah saya bertahan dalam sebuah pernikahan? Apakah menikah adalah keputusan yang tepat untuk menyempurnakan separuh agama?

Setelah menunaikan salat duhur seorang ibu yang mungkin memasuki usia 40 an bertanya apa kasus yang sedang saya urus. Saya katakan bahwa ke Pengadilan Agama hanya untuk menemani teman yang tengah melakukan penelitian. Ia sendirian dan terlihat agak bingung. Kemudian ia bertanya tempat pendaftaran Pusat Bantuan Hukum (Pusbakum). Saya menunjuk salah satu ruangan yang ia tanyakan. Sepertinya ia mamang untuk datang ke ruangan tersebut. Saya kira ia hendak mendaftarkan gugatan perceraian, well semoga saya keliru. 

Hantu Pernikahan

Jujur saya tidak berani menikah, banyak hal yang menghantui dan membuat saya khawatir. Pernikahan bukanlah hal yang mudah, ah mungkin akad menikah mudah, tapi kehidupan pasca menikah tentu tak semudah angan-angan remaja. 

Tidak seperti kebanyakan teman yang ingin segera menikah. Justru saya belum bisa memikirkan bagaimana kehidupan setelah menikah. Apakah pernikahan mendatangkan kebahagiaan? Apakah pasangan saya adalah orang yang paling tepat dan dengannya saya bisa membangun pernikahan sakinah mawadah warahmah.

Bagaimana dengan anak-anak nanti? Apakah bisa memberikan kehidupan yang layak dan bahagia untuk mereka? 

Saat ini saya melihat pernikahan 'merusak' perempuan. Kata-kata itu mungkin terlalu kasar. Karena dalam Islam pernikahan juga bertujuan untuk menghormati serta menjaga perempuan. Tapi kemudian pikiran saya yang terbatas ini mengatakan bahwa baik di dalam pernikahan maupun di luar pernikahan, banyak perempuan yang dirugikan. 

Contohnya, memiliki anak merupakan salah satu bukti nyata dari merusak tubuh perempuan. Saya ingin katakan bahwa seharusnya suami bisa lebih menghargai istrinya. Selalu banyak wanita yang lebih menarik di luar sana. Tapi tidakkah mereka sadar bahwa seorang wanita yang kini berada di rumahnya telah mengorbankan begitu banyak hal untuk tetap mendampingi perjalanannya.

Pengalaman buruk tentang pernikahan membuat saya berpikir bahwa pernikahan yang harmonis adalah omong kosong. Sungguh saya ingin percaya bahwa pernikahan bukanlah lembah penderitaan, tetapi kenyataan yang saya temui mendukung semua pemikiran negatif itu. 

Apakah berlebihan dengan pemikiran seperti itu?

Post a Comment

Previous Post Next Post