Mangir, Purwogondo.

Bisa-bisanya aku sebegitu ketergantungan kepadanya. Seperti dia satu-satunya teman di segala kondisi selain Tuhan dan ibu kandungku. 

Dia tidak hanya omong kosong ketika bilang akan membantuku. “Kalau ada apa-apa bilang,” dia membuktikan bahwa kalimat itu bukan sekadar bualan.

Aku bisa hanya mengobrol dengannya saja setiap hari melalui WhatsApp. Aku mengabaikan semua pesan masuk dan pesan darinya selalu yang utama. Aku bukan hanya malas, tapi aku kadang bingung harus membalas apa jika banyak pesan masuk dari teman-temanku jadi lebih baik tidak kubalas semuanya. Eh mungkin itu bukan jalan keluar yang baik tapi ya sudahlah.

Dia ada untukku, memberiku dukungan dan solusi. Terima kasih.

Kali ini aku bukan takut ditinggalkan, aku juga takut jika aku yang pergi. Aku khawatir diabaikan tapi aku lebih takut jika dengan bodohnya aku yang mengabaikan. 

Aku sulit mempercayai perkataan seseorang sampai ia bisa membuktikan dengan tindakan. Aku mempercayai apa yang aku lihat dan rasakan. Tidak hanya bisa salah satu saja, harus keduanya. 

Aku bisa sangat bergantung padanya, bahkan ketika poni rambutku keluar dari jilbab, aku suka dia yang langsung merapikannya lagi bukan hanya sekadar mengingatkan. Aku separah itu. 

Aku jauh dari ukuran perempuan baik-baik. Tapi aku akan berusaha. 

Post a Comment

Previous Post Next Post