Terkadang juga, orang-orang dengan depresi tidak ingin membuat sahabat dan keluarganya khawatir sehingga ia berpura-pura baik-baik saja dan menunjukkan bahwa depresinya telah selesai.

(Loving The Wounded Soul karya Regis Machdy, halaman: 39)

Pada suatu malam di salah satu tempat makan, saya dan seorang teman asal Kalimantan duduk berbincang sambil menunggu hidangan datang. Saya selalu takjub melihatnya yang tak hanya berparas cantik namun juga cerdas dan aktif di kampus. Secara terang-terangan saya menyatakan kekaguman dan mengatakan bahwa dia adalah wanita yang sempurna hidupnya--cantik, cerdas, berasal dari keluarga berkecukupan, kurang apa lagi?

Kemudian ia mengutarakan fakta yang membuat saya terkejut, “Hidupku tidak sesempurna itu, tekanan dari orang tua dan permasalahan lain sering membuatku berpikir untuk mengakhiri hidup. Aku pernah mencoba bunuh diri!”

Saya pun teringat ungkapan dalam bahasa Jawa, “Urip iku sawang sinawang,” yang kurang lebih serupa maknanya dengan idiom rumput tetangga selalu lebih hijau. Kita melihat kehidupan orang lain begitu menyenangkan namun sebenarnya kita tak tahu apa permasalahan dan kesulitan yang sedang mereka hadapi.

Hari demi hari saya menemukan banyak orang yang terlihat bahagia dan paling keras tertawanya ternyata mereka telah atau sedang menanggung luka. Hidup ini penuh paradok, mereka mengekspresikan kesedihan dengan terus terlihat ceria saat di depan orang lain namun menangis tersedu saat sendiri. Hal ini yang membuat saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, kesehatan mental apa kabar?

Gejala Kesehatan Mental

Di dalam tubuh yang terlihat sehat ternyata terdapat mental yang sakit. Sering kali kita tidak menyadari bahwa tubuh yang kuat belum tentu mencerminkan mental yang sehat. Penyakit yang lebih parah berasal dari dalam dan biasanya terabaikan. Seseorang dituntut bugar secara jasmani namun kesehatan rohani luput dari perhatian.

Padahal ada yang lebih penting dan mendesak untuk disembuhkan dari sekadar luka fisik yaitu kesehatan mental. Dilansir dari laman alodokter.com berikut adalah beberapa tanda kesehatan mental terganggu.

1.     Kehilangan Kemampuan Berkonsentrasi

Tidak dapat berkonsentrasi dalam waktu tertentu bisa dianggap wajar, namun jika secara terus menerus terjadi hal itu bisa mengganggu kualitas hidup. Sulit berkonsentrasi bisa menjadi gejala depresi. Depresi ialah gangguan suasana hati yang ditandai dengan perasaan sedih secara mendalam dan rasa tidak peduli.

2.     Mengalami Perubahan yang Drastis

Perubahan ini dapat terlihat dari perilaku sehari-hari. Perubahan yang drastis terhadap suasana hati, perasaan yang cepat berubah-ubah mulai dari senang, sedih dan lainnya

 

Selain itu perubahan pola makan, dari normalnya makan 2 kali sehari bisa makan lebih banyak dari itu atau bahkan lebih sedikit. Kondisi psikis yang tidak stabil membuat orang sensitif, ia menjadi lebih cepat tersinggung, terlalu memikirkan sesuatu dan mudah marah.

3.     Tidak Mampu Menangani Stres dan Masalah Sehari-hari

Dalam hidup, manusia tidak akan lepas dari permasalahan. Masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari sering kali membuat seseorang merasa stres. Stres merupakan reaksi tubuh terhadap ancaman, tekanan, perubahan atau masalah tertentu.

 

Beberapa orang mengalami stres ringan yang masih dapat diatasi dan bisa segera hilang dengan melakukan aktivitas menyenangkan. Sedangkan beberapa orang lagi mengalami kesulitan dalam memulihkan kondisi psikis, untuk jangka waktu yang panjang hal ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental.

 

Dalam kapasitas yang kecil stres bisa menjadi suatu hal yang positif di mana ia akan memiliki dorongan yang kuat untuk menyelesaikan suatu kewajiban atau tugas yang diemban. Namun jika dibiarkan berlarut-larut stres dapat mempengaruhi  daya tahan tubuh, kemampuan berpikir dan kesehatan mental.

4.     Delusi dan Halusinasi

Delusi ialah sebuah keyakinan yang tidak benar karena bertentangan dengan kenyataan. Walaupun begitu seseorang akan sangat yakin, tidak peduli fakta yang sebenarnya. Delusi adalah salah satu gejala dari beberapa gangguan jiwa psikotik contohnya skizofrenia, gangguan bipolar dan parafrenia.

 

Sedangkan halusinasi atau anak milenial menyebutnya “halu” adalah gangguan persepsi yang menyebabkan seseorang melihat, mendengar, atau mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Halusinasi bisa disebabkan oleh gangguan mental, penyakit tertentu, atau efek samping obat-obatan.

5.     Merasa Tidak Berguna

Setiap orang mungkin pernah merasa hidup begitu sia-sia dan tak ada gunanya. Pada titik terendah, seseorang bisa saja bertindak nekat dengan mengakhiri hidup. Padahal, Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan manfaatnya masing-masing.

 

Perasaan tidak berguna atau tidak lagi memiliki harapan untuk melanjutkan hidup harus diubah menjadi kesadaran bahwa setiap orang memiliki perannya masing-masing. Jika terus menerus merasa tidak berguna tanpa ada perkembangan ke arah yang lebih baik biasanya seseorang akan menyerah dengan kehidupannya. Tidak lagi memiliki semangat untuk melanjutkan hari.

 

Untuk orang yang mengalami ini harus diberi dukungan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan optimisme. Jika dibiarkan tanpa penanganan perasaan semacam ini bisa membunuh mental seseorang.

 

Jangan Diabaikan

Kesehatan mental yang terganggu dapat menyebabkan penyakit mental. Gangguan mental dapat mengubah perilaku seseorang dalam mengatasi stres, hubungan dengan individu lain, dan dalam kondisi terburuk ia bisa menyakiti diri sendiri bahkan orang di sekitarnya.

Selain gejala psikologis, gejala fisik juga dialami oleh mereka yang mentalnya terganggu seperti sakit kepala, punggung dan maag. Saat demam kita bisa segera ke dokter, namun ketika mengalami depresi masih banyak dari kita yang sungkan untuk berkonsultasi ke psikolog. Setiap orang punya alasan masing-masing mengapa tak ingin datang ke psikolog/psikiater.

Namun sebaiknya kita tak menyimpan semua ini sendirian. Kita tetap perlu teman untuk sekadar berkeluh kesah. Sedikitlah terbuka kepada orang-orang terdekat yang bisa dipercaya.

Untuk itu kita harus pandai-pandai menjaga kesehatan mental baik diri sendiri mau pun orang di sekeliling kita. Mereka yang sakit mentalnya perlu diperhatikan dan diberi pendampingan agar tak merasa sendirian dalam proses penyembuhan.

Mari saling mendukung untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang lain. Berikan bantuan untuk meringankan beban mereka, jika tidak bisa setidaknya kita bukan penyebab seseorang depresi. Jadi sekali lagi ayo bertanya kepada diri sendiri, kesehatan mental apa kabar?

 

Post a Comment

Previous Post Next Post