Malam ini aku mendengar cerita yang membuatku semakin takut kepada laki-laki bahkan meskipun itu teman sendiri. Dicurigai salah satu temanku sedang onani/masturbasi di kamar mandi, beberapa teman lelaki mendengar saat mereka ngopi di dapur. Kebetulan kamar mandi rumah yang kami tempati berada di dapur yang biasanya sering menjadi angkringan dadakan. 

Sebut saja Zainab sering mandi di kamar mandi tersebut, begitu pun aku. Pada hari itu ia melupakan jarum pentul di kamar mandi dan berniat kembali lagi untuk mengambilnya. Namun ia berhenti mendapati tiga orang teman laki-laki duduk di meja makan sembari bertanya, "Zainab dengar suara dari kamar mandi? Temanmu sedang apa?" 

Yang sedang berada di kamar mandi sebut saja Tono. Zainab seketika paham, bulu kuduknya berdiri. Saat itu juga dia tidak mau pergi berdua saja dengan Tono untuk mengisi TPQ di dusun sebelah. Zainab hampir menangis untuk minta digantikan dengan yang lain. Semua kejadian itu berlangsung saat aku sedang sakit dan pulang ke rumah. 

Zainab bilang ia bukannya mau menyebar aib, hanya saja mengingatkanku agar lebih berhati-hati. Aku pribadi tidak punya masalah dengan apa yang dilakukan Tono karena mungkin itu memang kebutuhan biologisnya. It's not my bussiness. 

Tapi aku harus tetap berhati-hati, jujur aku jadi semakin takut kepada laki-laki. Takut bertemu dengan mereka yang hanya menurutkan nafsu birahi dan tak bisa menahan diri. Sejak mengetahui banyak kasus pemerkosaan dan pembunuhan aku jadi takut keluar sendirian. Aku takut naik ojek pada malam hari, aku takut keluar dengan orang yang tidak dikenal. 

Aku menyadari bahwa manusia memiliki kebutuhan seksual dan itu wajar. Hanya saja sebagai perempuan kita tetap harus berhati-hati bukan? 

Katakanlah aku dengan kekasihku sudah terlampau jauh melewati batas, itu dilakukan atas dasar kerelaan. Meskipun itu suatu kebodohan. Pelacur saja butuh bayaran untuk melakukannya, lalu atas nama cinta dengan status pacaran kamu rela dihancurkan masa depannya? Tolong jaga diriku Tuhan. 

Aku sedih dan tak sadar menumbuhkan kebencian kepada laki-laki yang menyakiti Firdaus. Perempuan unik dalam novel Perempuan di Titik Nol, mengalami hidup yang bagiku mencekam. Tidak adil baginya menghadapi hinaan semacam itu. Ke mana pun ia pergi selalu bertemu dengan laki-laki bejat dan bangsat. Hidupnya sungguh perih. Bagiku, dia berhak merasa hidupnya tidak adil karena hanya berisi kutukan demi kutukan. 

Bagaimana laki-laki menjawab tuduhan bahwa mereka adalah kaum penindas yang hanya peduli memuaskan birahi? Mereka begitu egois ingin menguasai dunia dan menindas wanita. Mengisi semua sektor penting dalam pemerintahan dan pekerjaan kemudian menghalang-halangi perempuan memperoleh jabatannya. Bagaimana laki-laki membuktikan bahwa tuduhan itu sama sekali salah? Bagaimana?

Dengan fisik yang kuat mereka gunakan tangan-tangan kekar itu untuk memukul dan menjambak. Kedua kaki yang seharusnya menjadi penopang untuk menafkahi keluarga malah digunakan untuk menendang dan menginjak. 

Aku tidak ingin menghakimi lebih jauh lagi. Di dalam keluarga, Bapakku bukanlah sosok panutan yang bisa dibanggakan. Ia jauh dari kata sempurna dan memang hanya menyiksa batin ibu. Aku tidak membencinya tapi aku takut berjodoh dengan laki-laki yang serupa. Jika kedua orang tuaku bertanya mengapa hingga memasuki usia dewasa tapi aku belum juga berani menikah, alasannya karena pernikahan mereka membuatku tidak berani melangkah. Pernikahan mereka tak bisa dicontoh. Siapa yang menjamin bahwa aku akan lebih bahagia jika menikah?

Bahkan hari ini aku sangat takut kepada kekasihku sendiri. Jika dia bangsat semoga bukan aku korbannya. 

Kita telah melakukan kenakalan yang cukup parah, seharusnya kita berhenti. Bagaimana caranya? Lebih baik kita tak perlu bertemu dulu, hingga kita bisa memastikan tidak akan bertindak ceroboh. Kita tak bisa terus begini iya kan? Aku mengaku aku yang salah. Tolong hentikan aku. Tolong. Jika kita memang saling mencintai seharusnya tidak begini. 

Aku pikir, sudah setua ini namun mengapa semakin buruk? Seharusnya menjadi lebih baik bukan? 

Kembali pada cerita yang membuatku takut kepada laki-laki. Beberapa waktu lalu aku secara tidak sengaja bertemu dengan Kades saat hendak menemui temanku untuk menukar motor. Iya aku memang memoles muka, bukannya cantik aku justru terlihat seperti Tante-tante. Singkat cerita, malam harinya Kades mengirimkan pesan secara pribadi di Whatsapp. Hanya hal sesepele itu aku sudah takut setengah mati. Aku terlalu was-was dituduh perempuan penggoda. Aku pun takut menjalin komunikasi dengan laki-laki yang terlihat "nakal". 

Kubalas pesan sesopan dan sesingkat mungkin untuk nghindari percakapan yang lebih panjang. Beruntungnya sekarang tak ada lagi chat masuk dari orang asing karena aku tak segan memblokir nomor siapa saja yang usil.

***

Sebenarnya aku tidak ingin berubah jika dia tak berubah lebih dulu. Aku tidak akan meninggalkan seseorang begitu saja tanpa alasan, tanpa berbuat kesalahan. Bahkan jika ia berbuat salah pun aku akan mempertimbangkan untuk memaafkan. Bukankah memang perempuan akan menggunakan perasaannya saat menjalin hubungan? Karena sekali saja perempuan menggunakan otaknya, maka tak mungkin ia mau bertahan dalam hubungan yang tidak menguntungkan. 

***

Terima kasih kepada Ibun yang membuat harapanku terwujud, tentu berterima kasih yang utama kepada Tuhan. Aku sudah melakukannya, bersyukur karena aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Sekali lagi terima kasih. Alhamdulillah. 

Bisa-bisanya jam segini aku laper padahal tadi udah makan. Hari ini aku makan 3X sehari. Ya Allah jadi doyan makan banget nih aku. Yuk bantu saudara yang lain jangan hanya mengisi perut sendiri, ayo pikirkan dan berikan bantuan kepada yang membutuhkan.

Aku tidak menulis secara runtut, aku menulis bukan untuk dipahami orang lain karena cerita ini bisa saja mengandung rahasia yang seharusnya tak dibaca. Biaralah mengalir secara zig zag dan membuat orang lain yang tak sengaja singgah merasa bingung, mereka tak perlu paham. 

Post a Comment

Previous Post Next Post