Sabtu pagi aku kembali ke Ngaliyan dengan kondisi yang kurang baik. Setelah lima hari mengembalikan kesehatan, hari ini akhirnya aku kembali ke Purwogondo. Suana posko sepi saat aku sampai, itu pukul 11 siang. 

Ada satu temanku-arek Suroboyo yang menyapa di teras posko. Dia sudah tiba rupanya, beberapa waktu yang lalu dia terpaksa pulang ke rumah karena ada urusan mendesak. Berbincang sebentar, kemudian aku pergi ke rumah sebelah tempat anak perempuan.

Sambil membaca novel Perempuan di Titik Nol, aku tertidur. Suasana yang sepi dan sejuk mendukung siapa pun agar cepat terlelap. Tak lama suara berisik menyeruak, teman-temanku yang lain datang. Suara tawa menggema, cukup mengganggu tidurku. Ah, andai masih di kosan tak perlu aku mendengar suara yang keras dan merusak gendang telinga seperti ini. 

Hujan deras mengguyur wilayah Boja sejak adzan duhu berkumandang. Konsisten dengan volume yang cukup tinggi hujan urung reda. Jujur aku lapar. Mi ayam dan bakso sepertinya enak. Tapi apa boleh buat, hanya ada indomi yang bisa kusantap. 

Aku tidak suka di sini. Mungkin aku akan merindukan tempat ini, tapi saat ini aku benar-benar tidak menyukainya. Bukan tempat yang bisa membuatku merasa tenang. Aku kurang nyaman dan ingin cepat-cepat pulang. Setidaknya pulang ke Ngaliyan. 

Aku bukan orang yang bisa berteman dalam kemunafikan. Aku lebih memilih sendirian daripada berteman dengan orang yang munafik. Itu mengapa aku tak punya banyak teman. Itu mengapa aku lebih sering sendirian. Aku selalu punya firasat yang kuat terhadap orang-orang yang tidak menyukaiku. Aku tidak pernah bisa membohongi hati kecil jika tidak nyaman kepada seseorang. Lebih baik mengambil jarak dan saling acuh. Itu jauh lebih baik daripada berpura-pura baik. 

Belakangan aku selalu mengeluh kesepian, mungkin karena aku yang gagal berbaur dengan manusia lainnya. Mungkin karena memang tidak mau. 

Aku bukan orang yang baik, tapi aku bisa memastikan tidak akan berkhianat kepada orang yang tulus dan setia. Baik dalam lingkaran pertemanan yang umum maupun khusus. Hahaha. 

Lain kali aku akan bercerita tentang hari-hariku yang mungkin akan berjalan dengan seru. Hal-hal yang tak tertulis biasanya tersimpan rapi di memori. 

Post a Comment

Previous Post Next Post