Aku bisa menahan sesaknya rindu tapi tidak bisa menahan perihnya cemburu. 

Aku sudah berkali-kali bilang ke diri sendiri tidak mau membebanimu dengan sikapku yang kekanak-kanakan. Aku sudah berusaha. Tapi maaf aku tidak bisa mencegah hatiku yang merasa pedih karena kau selalu ada untuknya. 

Aku juga lelah menangis, dadaku sesak sekali. Aku yang terlalu mencintaimu lupa bahwa tak seharusnya bersikap posesif. 

Aku ingin menyerah dengan perasaanku sendiri. Aku ingin mengakhiri rasa sakit ini. Rasa sakit karena terlalu menyayangi.

Aku yang terlalu mandiri atau aku yang terlalu khawatir membebani? Jika masih bisa kulakukan sendiri maka tak perlu meminta pertolongan. Itu sebabnya aku tak suka jika wanita lain merepotkanmu. Aku yang kekasihmu saja enggan, tapi mereka begitu mudahnya memintamu melakukan ini itu. Tapi selama kau senang melakukannya, aku bisa apa? 

Dulu, sebut saja "teman lama" membantu teman perempuannya yang juga temanku untuk pindah tempat tinggal. Sekarang kau pun melakukannya.  Rasanya seperti mengulang kisah yang sama. 

Kalau dulu aku bersikap kekanak-kenakan kontak "teman lama" langsung kublokir. Aku baru membuka blokiran sebulan kemudian. Setelah itu kita baru berbaikan. Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan? Mengabaikanmu? Marah? Apa? Mungkin lebih baik aku tidur. 

Mungkin kau belum pernah merasakan perihnya terbakar api cemburu. Maaf jika kau harus menjalin hubungan dengan perempuan pencemburu sepertiku. Kadang aku berpikir untuk membebaskanmu dari kekanganku, tapi aku masih menyayangimu. Meski aku sadar saat bersamaku kau malah sering makan hati. 

Aku masih ingin bersamamu. Beri aku waktu untuk mengobati sakit hati. Untuk menetralisir rasa cemburu. Mungkin dua minggu atau dua bulan. 

Suatu saat mungin kau akan bosan menghadapiku. Kau akan muak meminta maaf. Kau akan marah saat karena selalu dituding bersalah. 

Dengar ini, akulah yang salah. Aku yang terlalu kekanak-kanakan. Aku sebal kau selalu meminta maaf bertubi-tubi tapi kemudian mengeksplorasi diri membuat "kesalahan" baru lagi. Eh bukan-bukan. Itu bukan kesalahan, aku sudah sangat berlebihan. 

Mungkin, karena kau tahu aku begitu mencintaimu dan juga takut kehilanganmu. Kau merasa bebas melakukan apa pun. Ah sudahlah, aku cerewet sekali ya? Seharusnya aku lebih banyak diam agar menjadi perempuan yang kau sayang.  

Seharusnya aku lebih dewasa seperti perempuan yang selalu kau kasihani. 

Aku ingin mengatakan ini, meski sangat egois aku ingin bersikap tidak peduli. Aku tidak peduli kalian sudah lama berkenalan, bersahabat, dan saling mengisi. Aku sungguh ingin tidak peduli dan tidak mau tahu pokoknya yang jelas aku cemburu. Aku tidak suka. Meski kalian sudah akrab jauh sebelum kita berpacaran, aku tetap cemburu. Ada rasa marah saat kalian selalu berhubungan. Ya, aku tahu aku salah.

Tapi ya sudahlah, sekali lagi aku siapa? Hehehe perusak suasana sepertiku seharusnya diam saja tidak usah banyak protes. 

Kau ingat saat bilang cemburu kepada salah satu temanku? Sejak saat itu aku terhitung jarang berkomunikasi dengannya. Biasanya setiap hari selalu mengobrol tapi sekarang tidak lagi. Entah mengapa rasanya terjadi begitu saja aku tidak lagi nyaman akrab dengannya. Mungkin di alam bawah sadarku aku hanya ingin menjaga perasaanmu dan membuktikan bahwa kaulah satu-satunya yang dekat denganku. 

Hahaha iya aku tahu kau tidak memintanya. Tidak menyuruhku melakukan itu. Dan kau juga bilang bahwa aku tetap harus bersikap seperti sedia kala. Tapi karena aku tahu bagaimana perihnya cemburu maka lebih baik tidak menyulut api. Aku menarik jarak panjang agar pertemananku dengannya tidak menyakitimu.

Apakah kau harus melakukan yang sama? TIDAK. Kau tidak harus membalas perbuatanku dengan hal yang sama. Kalau pun aku pernah berbuat baik, aku tidak berharap kau akan melakukan sebaliknya. Karena berharap kepada manusia sama saja dengan aku bunuh diri. 

Hai, jika nanti kau jengah menjalin hubungan denganku jangan sungkan-sungkan untuk mengakhiri. Lebih baik dilukai menggunakan pisau tajam dengan sekali iris daripada dilukai perlahan-lahan dengan pisau tumpul. 

Aku tidak mungkin melayangkan pernyataan memutuskanmu duluan, karena aku terlalu bucin hahaha. Tapi entah jika suatu hari aku sudah tidak tahan dan benar-benar menyerah mungkin aku akan menghilangkan diri dari hidupmu. Lalu hidupmu akan menjadi lebih cerah dan ceria setelah kepergianku. Menurutmu apakah aku pergi sekarang saja? Dan melupakan semua daftar keinginan yang telah kubuat jika nanti sah menjadi istrimu.

Hahaha mimpi. Aku terlalu bermimpi bisa hidup bahagia sampai mati bersamamu. Aku terlalu halu kau akan memiinangku dengan seperangkat alat salat. Padahal kau telah berkali-kali bilang jika aku tak boleh terlalu mencintaimu. Aku harus bersiap ditolak dan dicampakkan. Aku harus tahu diri. 

Semangat aku. 

Pikiran, "Kenapa harus repot-repot menjalin hubungan dengan perempuan yang jauh tempat tinggal jika ada yang dekat? Kenapa harus LDR jika yang di sini saja sudah ada yang mampu membuat nyaman?"

Pikiran itu tidak salah. Kalau memang kau tidak mau mengusahakanku, aku tidak akan meminta apalagi memaksa. Lakukan semua yang kau ingin sesukamu, buat aku secepatnya menyerah. Jadi kau tak lagi terikat denganku karena aku akan segera melepasmu. 

Belakangan kau sebenarnya sudah menyicil untuk membuatku menyerah. Menyulut emosi dan menguras kesabaranku yang terbatas. You did. Lakukanlah dengan terus-menerus jangab sungkan-sungkan. Semoga akalku segera pulih, jadi tak lagi terlalu menggunakan perasaan. Setelah aku menggunakan otak kiri dengan maksimal maka tak pakai lama aku pasti menjauhimu. 

Post a Comment

Previous Post Next Post