Aku tahu mengapa aku takut menikah. Ini tentang 2 keluarga besar yang disatukan dengan akad pernikahan. Bukan hanya tentang 2 orang saja. Meski begitu tak selamanya juga keluarga akan ikut campur. Gunanya menikah untuk membangun keluarganya masing-masing. 


Mengapa aku takut? Karena bebanku akan semakin bertambah. Dulu aku hanya harus memikirkan keluargaku dan diri sendiri. Namun jika menikah aku harus memikirkan suami dan keluarga suamiku--setidaknya orang tuanya. Belum lagi anak-anakku nanti. Rasa-rasanya beban pernikahan yang sedemikian berat tak mungkin sanggup kupikul. 

Jika suamiku orang yang konsisten "baik" dan bisa diajak bekerja sama tentu akan lebih mudah. Tapi berapa banyak orang yang berubah di kemudian hari. Awalnya manis, lalu menjadi pahit. 

Aku benci melihat ayahku yang sumbu pendek dan tolol. Eh bagaimana mengatakan bahwa pengetahuan ayahku terlalu sempit? Dia selalu merasa dirinyalah yang paling benar. Tidak mau mendengarkan orang lain. Itu mengapa aku begitu berhati-hati memilih laki-laki. Aku ingin memastikan dia seseorang yang mau mendengarkan orang lain atau tidak. Dia orang yang bisa menerima kritik dan saran atau tidak. 

Aku belum berani mengambil resiko pada pernikahan yang akan berlangsung. Untuk perempuan yang selalu mengutamakan cinta dan rasa harmonis, pertengkaran adalah hal yang sebisa mungkin tidak perlu ada. Untuk aku yang dijuluki budak cinta, perubahan sikap pasangan akan begitu berpengaruh.

Bagiku cinta adalah alasan mengapa aku memilih seseorang menjadi pasangan. Hadirnya rasa nyaman dan sayang dalam jiwa. Ketenteraman batin adalah yang utama. Banyak hal mungkin akan berubah tapi aku selalu ingin romantisme saat berpacaran akan terus terjaga hingga pernikahan di ujung usia. 

Romantisme adalah segalanya. Wajar jika orang mengataiku budaknya cinta. Karena aku selalu ingin mencintai dan dicintai. Memperhatikan dan diperhatikan. Kata mereka cinta yang romantis hanya akan bertahan sampai kelahiran anak pertama, karena setelahnya pernikahan akan berubah. Orang-orang disibukkan oleh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang kian meningkat. 

Dan aku tetap menjadi orang yang penakut dan pengecut. 

Post a Comment

Previous Post Next Post