Kami berada di rumah kayu yang terletak di atas laut. Dia berada di sisi seberang bersama teman-temannya. Dari rumah kayu tempatku berdiri menuju dirinya mungkin berjarak sekitar 100 meter. Angin, salah seorang temannya yang juga merupakan temanku menghampiriku lebih dulu. Melalui jembatan kayu yang menghubungkan tiap gubuk Angin berjalan semakin mendekatiku. Tapi kekasihku masih sibuk dengan teman-temannya, ketika ia menyadari Angin lebih dulu menyapa baru ia bergegas menghampiriku. Senatural mungkin, ia tidak ingin siapa pun tahu bahwa kami saling mencintai. 

Setelah menyapa Angin pergi begitu saja, mungkin ia ingin lari berkeliling taman-- berolahraga seperti orang lain. Kekasihku tiba di hadapanku, dalam sekejap kami berpindah tempat tak lagi di atas lautan. Kini kami berada di taman yang begitu ramai. Aku lupa itu pagi atau sore, mungkin pagi karena tak ada semburat jingga menghiasi langit-langit kota. 

Dia tersenyum mendapatiku yang masih terus menatapnya. Dia tidak sendiri, dia bersama dua orang anak laki-laki yang mungkin berumur 6 atau 7 tahun. Kupikir itu adik-adiknya, tapi seingatku dia tak punya adik laki-laki, dia hanya punya satu adik perempuan dan itu pun sudah remaja. Kedua anak kecil itu kemudian berlarian entah ke mana. 

Kami berjalan seperti yang lainnya menikmati udara segar. Tanganku melingkar di lengan kirinya. Kami tak banyak bercakap, karena rindu yang kami pendam setelah sekian lama memilih untuk luruh tanpa saling berucap. Perasaan kami begitu berbunga-bunga, setelah sekian lama berpisah akhirnya kami bertemu.

Entah apa yang membuat kami berdua tiba-tiba tertawa, aku memeluknya sebentar sebelum tersadar bahwa di tempat itu banyak orang yang mengenal kami. Ada Angin dan kawan yang lain. Kami belum ingin mereka tahu, maka tak perlu ada komando genggaman kami terlepas. Tapi kami tetap berjalan beriringan. Kali ini aku lebih murung, kenapa aku tidak bisa tetap menggenggam tangannya dengan erat? Peduli apa jika orang lain tahu tentang hubungan kami?

Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi aku hanya diam begitu pun dengannya. Kami terus berjalan hingga kerumunan yang padat membuat kami terpisah. Aku tidak tahu dia di mana. Kami berpisah begitu saja. Mungkin karena kami tak saling berpegangan tangan dan berjalan dengan pikiran masing-masing jadi tak terasa kami telah memilih jalan yang berbeda. Mungkin juga karena kami bertemu dengan banyak teman jadi tak enak jika kelihatan seperti pasangan. Kami terpisah lagi.

Mengapa kami harus berpura-pura seperti hanya sebatas teman biasa? Mengapa kami harus menyembunyikan cinta yang ada? Tidakkah kami bisa bodo amat dengan yang lainnya dan berani mengatakan kepada semesta bahwa kami berdua sepasang kekasih ha? Dan kami terlalu pengecut untuk melakukan semua itu hingga pertemuan ini begitu sia-sia. 

Dia berusaha mencariku. Aku berbalik menuju tempat semula berusaha menyibak kerumunan berjalan ke arah yang lebih sepi. Aku tidak bisa bernapas karena tempat itu mendadak sesak. Terlalu banyak orang. Satu keyakinanku saat kami terpisah, aku dan dia pasti bertemu lagi. Toh kami saling mencintai, kehilangan jejaknya untuk kali ini bukan berarti aku akan kehilangan dia untuk selamanya. Kami pasti akan bertemu lagi, dalam dunia yang lebih bersahabat. Dalam mimpi yang lebih indah. 


***
Meja kecil itu kemudian sunyi ketika sang pemantik berhenti berbicara. Tidak ada satu pun  orang yang duduk di kursi melingkari meja itu mau angkat suara. Tidak banyak yang ikut berdiskusi, hanya sekitar 6 orang. 

Kemudian aku bicara, begitu jauh di luar konteks pembicaraan yang ada. Tapi tak ada yang peduli, semua orang hanya ingin satu per satu berbicara mengutarakan gagasan. 

"Mungkin itu apa yang orang bilang sebagai open minded," ujarku memecah kebisuan.

"Aku tahu bahwa perempuan kelak akan kembali ke rumah, tak jauh-jauh dari dapur, kasur dan sumur. Tapi bukan berarti perempuan harus berhenti hanya di situ. Tetap saja perempuan memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, perempuan berhak mewujudkan impiannya tak peduli suatu hari tetap harus berkutat di dalam dapur, di sumur atau di atas kasur" aku agak memberikan penekanan pada tiga kata, dapur, sumur dan kasur.

Aku hanya ingin bilang, memangnya kenapa kalau perempuan akan menjalani kehidupan dengan tiga tanggung jawab tersebut tapi tetap berprestasi dalam bidang yang lainnya?

"Aku tidak ingin menikah dengan pria bermental patriarki. Tidak akan." aku tegas mengatakan tak ingin menikah dengan pria yang sok sok an mengatur dan membatasi kehidupan perempuan. Selalu ingin dilayani dan bertindak seolah raja yang diktator. Jauhkan aku dari laki-laki seperti itu. 

Perempuan tetap berhak menjalani keseharian dengan mengemban beberapa tanggung jawab. Perempuan bisa multiperan dan multitasking. Impian perempuan tak boleh gugur hanya karena ia menjadi seorang istri dan ibu. Semua perempuan memiliki hak untuk memilih apa yang ingin atau tidak dilakukan. Perempuan yang tahu diri, tentu tahu batas-batas yang tak boleh dilanggar. Dan laki-laki yang mengerti tak akan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk menginjak-injak harga diri perempuan.  

Keluarga akan menjadi lebih indah dan harmonis jika keduanya tahu tanggung jawab serta peran masing-masing. Bukan hanya tahu, mereka harus melakukannya dengan baik. 

Hujan semakin deras, dalam hitungan detik aku sudah berpindah ke kasurku yang nyaman. 

Post a Comment

Previous Post Next Post