Vinaulkonita.com 
Semakin kita terlibat dalam kehidupan seseorang, semakin besar kemungkinan kita berada dalam mimpinya.

Belakangan aku selalu bermimpi dengan berlatar tempat di Sekolah Dasar (SD)  ku. Wajar, karena banyak sekali kenangan waktu SD yang terlalu indah untuk dikenang meski beberapa bagian telah terlupakan. 

Banyak orang yang baru kukenal saat di universitas tapi mereka hadir menemuiku di sekolah yang tampaknya tak banyak berbenah. Aku lupa bagaimana ceritanya, tapi intinya selalu di tempat yang sama.

Tadi malam sahabatku mengunggah status di Whatsapp, foto-foto untuk dicetak dalam Buku Tahunan sebagai kenang-kenangan. Ia bilang ia begitu merindukan Darul Ulum (DU). Sama, aku juga. Ada rindu yang tak akan pernah tuntas di DU. Kehidupan terus berjalan, namun untuk kenangan yang satu itu rasanya tetap ada di belakang, mengekori siapapun yang pernah mengukir cerita di sana. 

Darul Ulum adalah wadah untuk segala tawa dan air mata. Aku belum sanggup bercerita tentang Pondok Pesantren di Jombang itu. Aku belum sanggup. Terlalu menyita energi batin. Aku menggunakan segenap perasaan jika berbicara tentang Pondok Njoso. Ah sudahlah, jangan dilanjutkan. 

Keluargaku terkadang mempercayai mimpi sebagai pertanda. Apalagi ayahku, ia sangat percaya kepada mimpinya. Entah terlalu konyol untuk percaya atau memang ia tahu kalau mimpinya memiliki arti. Seperti sebelum aku memiliki adik, ayahku bermimpi didatangi nenek dari ibuku yang telah lama meninggal. Nenekku ingin ikut bersama keluargaku dan ayahku merasa sepertinya akan ketambahan anggota keluarga. Tak berselang lama ternyata ibuku hamil.

Tak semua mimpi bisa diartikan tentu saja. Tapi bahkan sekelas Nabi pun mendapat petunjuk dari mimpi. Nabi Yusuf yang ceritanya begitu mahsyur ialah seseorang yang dianugerahi Allah kemampuan untuk menafsirkan mimpi. Itu artinya wajar saja jika beberapa orang begitu mempercayai mimpi. Di luar dari seberapa besar seseorang boleh mempercayai mimpi, aku pun sering mendapatkan pertanda akan terjadinya sesuatu melalui mimpi. 

Jika aku memimpikan orang yang aku cintai mungkin saja karena rindu. Berharap bertemu tapi tak kesampaian, akhirnya hanya bisa bertegur sapa melalui mimpi. 



***
Saat orang lain atau dirimu bertanya mengapa aku mencintaimu, yang ada di dalam benakku: mencintaimu ialah keniscayaan yang indah, selagi tidak ada alasan yang membuatku terhalang untuk mencintaimu maka biarkan aku mencintai tanpa pernah ditanya apa alasannya. 

Dasar hukum bermuamalah ialah sampai ada suatu larangan maka aktivitas tersebut tidak boleh dilakukan. Sama seperti aku mencintaimu, selagi tak ada larangan atau hal-hal yang membatalkan cintaku maka selama itu pula aku tetap mencintai. Bucin? Memang! 

Jika Tuhan yang membuatku jatuh hati maka aku tak lagi takut patah hati. Luka dan kesembuhan sudah menjadi tanggung jawab Tuhan, aku hanya perlu mengusahakannya. Kalau pun karena mencintai manusia aku terluka parah, setidaknya aku tahu Tuhanku tak pernah pergi ke mana-mana, Ia senantiasa bersamaku yang banyak khilafnya. 


Post a Comment

Previous Post Next Post