vinaulkonita.com

Saat adzan magrib berkumandang aku bergegas menutup pintu toko, namun urung karena ada satu keluarga datang--suami, istri dan seorang anak lelaki--untuk berbelanja (15/05/2020). Mereka sempat cemas aku akan segera menutup pintu, iya aku memang menutup pintu tapi hanya pintu yang di sisi 
kanan tidak sekaligus pintu di sisi kiri. Dengan tersenyum kutanya mereka mau beli apa?

"Mau beli beras"

"Mari Buk silakan"

Ada beberapa merek dengan beragam volume. Beras Cincin Kawin 10 dan 25 Kg. Beras 237 15, 20 dan 25 Kg. Beras AAAAA 25 Kg dan beras Bola Mas 10, 25 Kg. 
Juga tentunya dengan harga yang berbeda-beda. 

"Berapa harganya?" sang istri bertanya sambil menunjuk beras Cincin kawin 10 Kg.

"130 ribu"

"Kalau yang 15 kilo berapa?"

"175 ribu"

Singkat cerita setelah berunding dengan suaminya- jika itu bisa disebut berunding karena ketika meminta pendapat suaminya hanya berkata, "Itu sudah" sambil menunjuk beras merek 237 15 Kg. Sang suami sepertinya menginginkan transaksi itu segera berakhir mungkin karena tidak mau pusing dan sekaligus sungkan kepadaku yang akan menunaikan salat Magrib.

Mereka bukan satu-satunya pasangan yang saat hendak membeli beras harus berdiskusi. Menentukan harga yang sesuai dengan keuangan mereka. Aku banyak belajar dari setiap pembeli yang datang. Khusus perihal beras, aku belajar beberapa hal.

Pertama, hampir dalam semua hal kita harus berdiskusi dengan pasangan. Ya, tidak untuk semua hal apalagi jika butuh keputusan yang cepat atau untuk perkara sepele. Tapi bukankah sesuatu yang terlihat sepele terkadang terasa begitu berharga? 

Sesepele bertanya ingin makan apa hari ini? Makan di rumah atau di luar? Ingin dibelikan baju lengan panjang atau pendek? Ingin mandi air hangat atau dingin? Beli mobil avanza atau innova? Cat rumah warna putih atau oren? Beli lemari kayu atau plastik? Dan lain sebagainya.

Dimulai dari hal yang paling dianggap remeh sampai ke urusan yang agak serius, tentang jumlah anak dan pendidikannya, pengelolaan keuangan, dan perkara pelik lainnya. 

Jika suatu hari kita mengalami keadaan yang pelik, semoga ada peluk yang masih hangat dengan cinta. 

Kedua, pengeluaran disesuaikan dengan keuangan. Merek beras menunjukkan siapa yang mengkonsumsi nya. Untuk kalangan mana? Jika dalam kondisi ekonomi yang pas-pas an merek dan kualitas beras tidak terlalu dipedulikan karena yang penting bisa makan.

Aku agak sedih membayangkan hal ini. Bahkan untuk membeli beras saja mereka harus berhitung dengan cermat agar tetap bisa membeli kebutuhan lainnya. Mereka tidak membeli beras merek Cincin Kawin atau Bola Mas yang rasanya lebih enak dan pulen karena harganya lebih mahal. Untuk membeli apa pun mereka harus tahu betul harganya untuk menyesuaikan dengan kantong belanja. Mereka tidak bisa membeli dengan semaunya karena keterbatasan budget.

Ketiga, pengelolaan keuangan. Seorang istri dan ibu yang cerdas adalah ia yang bisa mengelola keuangan keluarga. Salah satu PR yang selama ini masih menghantuiku. Aku mencoba menabung dengan beberapa skema, aku memiliki 3 nomor rekening dengan fungsi masing-masing.

Rekening 3: Tabungan; Rekening 2: uang bisnis; dan Rekening 3: untuk menyimpan uang jajan. Aku juga membagi setiap tabungan dalam berbagai keperluan. Misalnya rekening untuk tabungan, aku klasifikasikan lagi menjadi tabungan untuk biaya pernikahan, tabungan untuk membangun rumah, tabungan untuk membeli mobil, tabungan untuk biaya pendidikan dan lain-lain. Jadi aku wajib tahu persis berapa saldo dalam rekeningku.

Lalu untuk rekening uang jajan, kubagi menjadi uang jajan sehari-hari, uang untuk membeli sandang, uang untuk membeli benda yang agak mahal seperti hp atau kamera dan uang traveling. Semuanya terbagi dalam tabel yang kubuat sendiri. Aku juga membuat limit atau batas uang aman dan nyaman
agar aku tetap merasa tenang. Jika keuanganku jumlahnya kurang dari limit yang sudah ditentukan biasanya aku agak cemas dan langsung mengerem pengeluaran. 

Mengapa aku melakukan hal yang tidak praktis itu? Karena aku lemah dalam manajemen keuangan. Aku seseorang yang boros dan suka belanja hehehe. Aku tidak bisa keluar rumah membawa uang 100 ribu meski hanya untuk membeli sayuran yang harganya mungkin 5-10 ribu. Karena di perjalanan itu bisa saja aku tiba-tiba mengubah menu masakan dan ingin membeli yang lainnya. Entah membeli jajanan atau apalah, berniat hanya beli cabe tapi pulang-pulang membawa banyak sekali plastik berisi pisang goreng, nasi kuning, kencur, jahe, mentimun, jagung, ayam dan lain-lain. Hahaha aku memang kacau dalam hal itu.

Ibun sudah banyak kali menegurku untuk pandai-pandai mengelola keuangan. Jangan sampai ketidakbecusanku itu menjadi bumerang dalam rumah tangga. Bicara soal rumah tangga, aku mengeluh kenapa terlahir sebagai perempuan. Tugas istri apalagi untuk masyarakat sekelas diriku pastilah dituntut untuk bisa masak, rajin bersih-bersih dan bisa cari uang. Karena untuk mempekerjakan asisten rumah tangga terbentur dengan biaya. Ibun saja yang sebenarnya mampu tetap tidak mau karena merasa bisa melakukannya sendiri. 

Tentu beda Ibun beda aku. Aku tidak pandai dalam urusan bersih-bersih rumah, hmmm jujur aku kurang suka hehehe. Jika hanya sebatas kamarku sih oke, tapi untuk rumah secara keseluruhan, Ya Tuhan aku malas sekali. Ini PR kedua yang harus segera aku tangani. 

Ini sudah aku lakukan berkali-kali, jika aku sibuk memasak maka aku tidak akan sempat melakukan pekerjaan lain seperti menjemur, menyapu dan bekerja. Jika cuci piring masih bisa karena bersanding di dalam dapur. Mungkin aku harus bangun lebih pagi agar bisa mengerjakan semuanya. Ya Lord malas sekali kan jadi istri? Belum lagi kalau jadi seorang ibu. Sanggupkah aku?

Aku tidak yakin. Jangan manja nak. Aku bukan manja, tapi asudahlah mungkin aku yang memang belum mampu. Masih banyak waktu untuk belajar. Kita perlu waktu dan habituasi. Bukankah bisa karena terpaksa? Hehehe.


Kekasihku 

Hari ini iseng aku bertanya kepada kekasihku seperti apa istri idamannya? Fenomena yang sedang trend karena pernikahan pasangan selebriti. Ia menjawab menginginkan seorang perempuan yang cantik, mulus dan tinggi meski kemudian ia bilang hanya bercanda. Mungkin saja dia mengatakan bercanda karena aku sama sekali tidak masuk dalam tipe itu. Kemungkinan pernyataannya tidak bercanda jika memang ia mendapatkan perempuan yang seperti itu.

Sebelum salat magrib tadi tiba-tiba terbesit dalam pikiranku bahwa laki-laki memang lah makhluk visual. 

Di luar dari pernyataan pertama tersebut hanyalah candaan tetap saja itu menunjukkan bahwa laki-laki adalah seseorang yang cenderung menilai sesuatu dari visual nya. Fisik adalah yang utama meski kemudian akan menjadi pertimbangan yang kesekian. Sebenarnya, untuk bercanda pun dia punya alternatif jawaban lainnya misal dari sisi sifat atau keterampilan. Contoh, dia bisa saja mengidamkan perempuan yang penyabar, hemat dan pandai mengatur keuangan. Jika dari sisi keterampilan perempuan yang pandai memasak, kuat mendaki gunung atau perempuan yang bisa menjahit mungkin ia butuhkan. 

Dia tidak mempersiapkan jawaban dengan baik. Pertanyaan yang terlalu mendadak dan hanya terlihat seperti lelucon. Tapi dari situ akhirnya aku menyimpulkan: bahkan dalam candaan sekali pun laki-laki tak bisa mengelak bahwa visualisasi fisik dari perempuan selalu penting.

Ya, memang penting. Tapi tidak terlalu penting jika fisik yang indah tidak dibarengi dengan good attitude dan good intellegency

Lalu ia memberikan jawaban yang sepertinya agak serius dan benar-benar dari hatinya: ia mengidamkan seseorang yang bisa menerima kekurangannya. Jika perempuan itu bisa maka ia seharusnya juga bisa menerima kekurangan masing-masing, kurang lebih begitu harapannya. 

Bagiku itu jawaban yang klise. Tidak mungkin suatu hubungan bisa berjalan tanpa adanya saling menerima. Jika hubungan bisa sampai ke ranah pernikahan tentu keduanya telah saling menerima atau berkomitmen untuk saling memaklumi kekurangan satu sama lain. 

Maksudku begini, sebutlah pacaran, pada pintu pertama mereka hanya saling mengenal lalu untuk membuka pintu ketiga mereka harus melalui pintu kedua yaitu saling menerima. Mustahil mereka akan sampai pada pintu ketiga jika dalam perjalanannya mereka ternyata tidak mampu menerima kekurangan pasangan. Maksudku(2) tentu saja seseorang akan mendapatkan pasangan yang bisa menerima kekurangan antara satu dengan yang lain. Karena jika ada salah satu yang tidak bisa maka hubungan itu memiliki dua kemungkinan, tetap berjalan dengan kaki yang pincang atau berakhir dengan saling mengucap selamat tinggal.

Itu adalah jawaban yang agak basi, tapi aku juga membenarkan jawaban tersebut. Jawaban itu adalah jawaban paling masuk akal ketika kita kebingungan jika ditanya pasangan macam apa yang kita idamkan? Karena kadang seseorang mendadak ragu-ragu menyampaikan sosok kekasih impiannya atau bisa saja dia memang tidak memiliki kriteria yang spesifik. 

"Yang bisa menerimaku" adalah jawaban aman.

Aku memaksanya untuk memberikan jawaban lain tapi mentok dengan jawaban, "Tidak tahu sayang, gak mau berekspektasi lebih". 

Aku pun akan didera kebingungan yang sama jika ditanya seperti apa suami idamanku. Aku ingin suami yang tidak menyentuh barang-barang haram: mencuri, narkoba, judi, alkohol, main perempuan dan hal-hal yang melanggar agama secara syar'i. 

Mungkin aku akan menjawab suami idaman adalah dia yang ketika marah pantang membentak, berkata kasar, mengata-ngatai apalagi main tangan. Aku ingin suami yang bisa menafkahi lahir batin, secara finansial, mental dan spiritual. Aku ingin laki-laki yang tahu bahwa menjadi perempuan itu tak mudah sehingga ia akan ringan membantu pekerjaan rumah atau kesulitan yang lainnya. 

Sebelum terlalu jauh menjadi suami idamanku, ia haruslah seseorang yang nyambung ketika diajak bicara, berwawasan dan mau diajak diskusi. Aku tidak akan tahan dekat dengan orang yang tidak nyambung ketika diajak ngobrol. Setampan apa pun ia jika tidak ada koneksi dalam percakapan maka,  bye. Aku tidak akan suka. 

Aku mengidamkan seseorang yang mau menghargaiku, tidak menyepelekan atau menganggapku remeh temeh. Aku menginginkan seseorang yang tidak mudah dengan jumawa berkata:

"Tidak sulit bagiku jika hanya mencari perempuan yang lebih darimu".

Aku akan sangat bahagia jika memiliki seseorang yang menganggapku berharga bukan dari rupa dan ia dengan bangga bilang kepada Tuhan: "Tuhan, aku bersyukur engkau hadirkan dia untukku, bantu aku menjaganya karena dia penting bagiku".

Aku tidak menghakimi kekasihku, sama sekali tidak. Jawabannya tidak ada yang salah dan aku menyukai jawaban yang ia berikan. Aku yakin dia memiliki alasan yang sebaiknya ia simpan sendiri kenapa memilihku sebagai teman dekat.

Aku sudah khatam tentang pemikiran jika orang lain harus tahu hubunganku dengannya. Aku sudah selesai dengan persoalan itu. Benar kata sahabatku, buat apa publik tahu siapa pasangan kita saat ini jika pada akhirnya bukan dia yang mengucapkan ijab. Dan tentu banyak hal yang harus kami pertimbangkan jika suatu saat ingin menuju ke bahtera pernikahan. 

Akhirnya aku tahu mengapa disebut "bahtera pernikahan". Ketika dua insan memutuskan untuk bersatu dalam janji suci maka keduanya akan mengarungi lautan kehidupan yang begitu luas dengan bahtera tersebut. Dalamnya tak terukur dan kapan pun gelombang atau badai bisa saja datang tanpa menunggu mereka bersiap.

Untuk itu saat menikah banyak yang mengucapkan "Selamat menempuh hidup baru". Hidup mungkin tidak baru dan malah semakin tua atau usang. Tapi kehidupan, mereka mengalami kehidupan yang berbeda, untuk itu dikatakan baru. Mereka seperti terlahir kembali, bukan sebagai bayi tapi sebagai suami dan istri. Mungkin di dunia ini seseorang seperti terlahir kembali sebanyak dua kali, yaitu saat ia terlahir ke bumi dengan tubuh yang mungil dan kedua terlahir kembali sebagai orang yang telah memiliki pasangan untuk meniti hari.

Apa yang ada di pikiranmu 5 jam menjelang akad nikah? Ini adalah hal yang akan kuingat ketika kelak aku akan melangsungkan pernikahan. Aku akan menghitung mundur mulai dari 5 jam hingga detik aku dinikahkan. Apa yang aku rasakan dan apa yang ada di benakku. Mungkin pertanyaan itu bisa aku tanyakan kepada teman-temanku yang sudah menikah. Ya, ide bagus. Apa tujuannya? Untuk mengingat bagaimana perasaanku menghadapi salah satu hari besar yang terjadi dalam hidup.

Post a Comment

Previous Post Next Post