vinaulkonita.com

Menulis adalah jalan ninjaku ketika jenuh.

Maskeran adalah jalan ninjaku ketika gabut. 

Menangis adalah jalan ninjaku ketika sumpek. 

***
Tadi malam aku baru bisa tidur mungkin sekitar pukul 2 dan terbangun lagi pada pukul 03.30 WIT. Setelahnya aku tak bisa lagi tidur. Jika insomniaku mulai kambuh mungkin aku sedang stres. Tapi aku stres kenapa? 

Tidak ada hal yang membuatku stres. Atau mungkin aku hanya jenuh lalu meningkat jadi stres? Kemarin sore aku cegukan. Aku bisa menandai jika aku sedang cegukan itu artinya aku sedang stres mungkin karena terlalu gugup dan takut menghadapi suatu hal bisa juga karena aku terlalu memikirkan sesuatu. 

***
Ibun adalah semangatku. Tak peduli sesering apa kami bertengkar, tetap saja dia adalah pahlawanku. My hero and no one can replace her. 

"Bun kenapa aku deg-deg an terus ya?"

"Mungkin karena mau bertemu orang yang disayangi"

"Memangnya boleh?"

"Ya terserahmu"

I love her so much! I can't show how much I love her. 

***
Aku ingat ucapan Fahrudin Faiz mengutip Al Gholzali seprtinya, entah lah aku lupa. 

"Karena cinta orang berpisah"

Jika tidak karena cinta maka orang tua akan melarang anaknya untuk menikah dan memiliki kehidupan yang baru. Para orang tua akan menjaga anaknya tetap di dalam dekapannya dan tidak membiarkan diambil orang lain.

Perpisahan tak selamanya karena benci atau permusuhan malah sering kali karena cinta. Karena cinta kita akan membiarkan orang yang kita sayangi berkembang dan memiliki jalan hidup yang dipilihnya sendiri. 

Mungkin seorang ibu harus berusaha rela melepaskan anaknya meski berat. Tak hanya ibu mungkin ayah juga begitu. Suatu saat bagai anak panah, kita akan meninggalkan kedua orang tua entah demi cita-cita maupun cinta. Semuanya harus saling merelakan

Semua ibu harus berusaha melepaskan anaknya meski tak tega. Jika ada orang yang paling aku jadikan pertimbangan ketika pergi merantau ialah ibu. Aku tidak pernah tega membiarkannya sendiri. Aku selalu merasa dia membutuhkanku. Tapi pada hari di mana dengan tegarnya ia melepaskanku, mengizinkanku terbang meraih mimpi di situlah aku sadar bahwa ia begitu mencintaiku.

Ia mengizinkanku pergi mengunjungi tempat-tempat baru. Ia mengizinkanku melakukan hal-hal yang aku sukai. Ia merestuiku menjelajahi semesta meski tak seluruhnya. Sungguh Bun, aku mencintaimu. 

***
Seperti genderang yang ditabuh
Jantungku bukan hanya berdebar tapi berdentum
Jika kusentuh letak jantung berada
Tanganku ikut bergetar

***
Aku sering lupa, saat ditanya sudah memiliki kekasih atau belum aku selalu reflek menjawab belum. Lama menjomblo membuatku tak terbiasa mengakui keberadaannya. 

Ia teman. Teman yang baik. Kami berteman dengan baik.

Ada hal-hal yang membuatku tak bisa tidur tapi apa? Entah.

***
Tadi malam sampai pagi ini aku ingin menangis, sesak rasanya. Aku perlu menangis untuk meluapkan gumpalan awan pekat di dada, di mata. 

Aku mungkin perlu piknik, berjalan-jalan sebentar ke tempat yang bisa membuatku tenang. 

Aku tidak ingin berharap kepada manusia dan aku sudah berusaha untuk tidak melakukannya. Aku hanya akan mengandalkan diriku sendiri. Jika aku berharap maka aku akan kecewa jika tak mendapatkannya. Aku akan mengutuk dan menyalahkannya. Padahal itu salahku. 

Aku punya alasan atas semua yang aku lakukan, itu karena diriku sendiri bukan karena orang lain. Aku tidak ingin menggantungkan harapan kepada manusia agar tak menelan pahitnya pil kekecewaan. 

Ya, aku sudah punya alasan atas pilihanku. Banyak hal yang memang harus aku lakukan dan itu bukan semata-semata hanya demi orang lain. Itu demi kebahagiaanku sendiri. Tak perlu ada yang dirisaukan lagi. Aku sudah punya banyak alasan menyenangkan atas pilihan yang kubuat dan atas tindakan yang aku lakukan. 

Aku hanya perlu mempersiapkan hal-hal yang bisa aku persiapkan, selebihnya itu urusan Tuhan. Aku hanya akan berusaha dan berdoa lalu menyerahkan hasilnya kepada Sang Pencipta. 

***
Ini hanya sementara Bun, aku pasti bisa membahagiakanmu di kemudian hari. 













2 Comments

Post a Comment

Previous Post Next Post