vinaulkonita.com

Pada akhirnya, kita menempuh jalan yang berbeda. Ini berat bukan hanya bagimu, percayalah. Ini juga berat untukku. Menyakitkan. 

Bagaimana kabarmu saat ini? Aku yakin kau hidup dengan baik. Bahagia selalu menyertaimu. 

Tidak adakah lagi jalan yang bisa mempertemukan kita? Kupikir semua tentangmu sudah berakhir. Ternyata aku salah. Kau kian kerap mendatangiku dalam mimpi. Ini hukuman karena kesalahanku atau memang manusiawi merindukan masa lalu?

Baik aku maupun dirimu tak ada yang pernah berniat pergi atau mengakhiri kisah. Kita masih saling mencintai dengan sangat sebelum keputusan yang kita buat. Mungkin sudah sangat terlambat untuk menyadari keegoisanku kala itu. Tapi sungguh, aku tak pernah berencana menyakitimu.

Kau pikir ada siapa di antara kita? Tidak ada siapa pun. Kau pikir aku tak setia menjaga hati? Kau salah besar! Saat itu, jantungku hanya berdegup kencang ketika kusebut namamu. Aku tak mempedulikan yang lainnya. Kau selalu lebih penting. 

Seperti mimpi buruk, ketika aku memulai hidup yang baru namun bayang-bayangmu selalu menghantui. Aku merasa telah berdamai dengan kita di masa lalu, tapi mengapa kini aku mendadak ragu? Benarkah kita sudah benar-benar usai?

Satu tahun berlalu, kupikir aku sudah baik-baik saja karena memang rasanya begitu. Namun mengapa kau hadir lagi dalam mimpi-mimpi panjangku? Tak sudah-sudahnya kau menyambangiku. Lalu apa yang harus kita lakukan jika begini keadaannya?

Kuyakin kau sudah menemukan hati yang baru, begitupun aku. Bisakah kita ikhlas untuk saling melepas? Mari berdamai. Kita tetap bisa menjadi teman, bukan balikan kita hanya perlu berbaikan. 

Aku tiba-tiba menangis mengingat kisah kita yang tragis. Aku mencintaimu dan begitupun denganmu. Lalu mengapa dua orang yang saling mencintai seperti kita harus berpisah? Kau pikir aku bahagia dengan keadaan kita? Ya, kupikir aku bahagia. Tapi aku tak bohong jika belakangan aku lebih banyak diam mengenang cerita kita yang tamat secara mendadak. 

Sedang sayang-sayangnya namun kita memilih untuk saling mengucapkan selamat tinggal. Apa yang bisa kulakukan agar tak lagi mengingatmu dengan membawa segenap perasaan? Ini terlalu sulit. Kutahu kau tak mungkin denganku, namun tiba-tiba aku ingin bertemu denganmu. 

Aku salah. Sejak awal aku memang salah. Kini aku harus menanggung dosa. Aku harus tetap tabah ketika semua lagu yang berputar mengembalikan ingatanku tentangmu. Tentang hal-hal yang pernah kita lakukan. Obrolan panjang lebar yang tak penting. 

Aku merasa kita masih saling merindukan saat itu. Tapi kini kurasa hati kita semakin jauh. Sangat jauh. 

Aku tertikam kenangan, sakit meski tak berdarah.

Sejak dulu kau tahu, merindukanmu tak pernah mudah. Dengan pipi yang basah kutuliskan hal yang mungkin hanya akan sia-sia.  

Kenapa baru sekarang aku merasa kehilanganmu? Dulu sekuat mungkin kucoba tegar agar tak terkapar kala kau pergi. Kucoba sabar menerima kenyataan yang menyakitkan. Kukira aku sudah berhasil melalui semua itu. Tapi sekarang rasa sakit perlahan tumbuh. 

Sungguh, aku ingin kau datang. Kita perlu berbincang untuk menyelesaikan kisah yang rumpang. Tapi kau sudah bahagia dan hidup tenang. Aku pun tak ingin mengganggumu yang sedang bersama orang tersayang.

Saat itu aku tak menangis sama sekali. Tapi malam ini mengapa hujan dari kedua mataku begitu deras? Kau pikir karena apa dulu aku ingin melepaskanmu? Karena kutahu ketika tak bersamaku kau akan lebih berkembang. Hidupmu akan lebih gemilang. Kau punya semangat berlipat untuk mencapai kesuksesan.

Kau perlu daya picu yang kuat oleh karenanya kulepas dirimu. Kuyakin, jika kau memang mencintaiku dan Tuhan menakdirkan kita untuk bersatu kita pasti segera bertemu. Aku mungkin lupa wajahmu, tapi aku tak lupa bagaimana perasaanku yang begitu tulus mencintaimu. 

Kau dan yang lain menilai aku jahat? Tidak apa. Karena aku tak bisa menjelaskan apa yang ada di kepala dan hatiku. 

Aku ingin tahu siapa seseorang yang sekarang bersamamu. Apakah dia lebih baik dariku? Syukur jika begitu. Aku yakin kau akan menjaga hatinya dengan begitu hati-hati. Kau pasti sangat mencintainya.

Aku benar-benar merasa kehilanganmu sekarang. Aku bukannya menyesal kala itu mengiyakan perpisahan. Aku hanya kebetulan teringat lagi tentangmu.

Kukira aku sudah siap memulai hidup bersama hati yang baru. Ternyata aku keliru.

Aku belum benar-benar siap mengulang luka. Aku belum berani jatuh dan patah hati lagi. Aku masih dihantui perasaan takut.

Mengapa aku harus mengingatmu lagi? Sedangkan kau di sana sudah tak lagi peduli? Seharusnya aku tak selemah ini. 

Jalan yang telah kita pilih, berbeda namun semoga indah untuk kita berdua. Jika ada kesempatan, mari saling bercerita tentang orang yang kita cinta. Seperti yang telah kita sepakati untuk memberitahu saat kita menemukan seseorang yang istimewa. 

Aku tak mungkin menyakiti seseorang yang kini bersamaku. Begitupun denganmu, kau tak mungkin menyakitinya. Kita pernah bodoh pada masanya, jangan lagi terulang kebodohan yang sama. 

Melepasmu pergi mudah saja, namun benar-benar melenyapkan perasaan untukmu aku cukup kesulitan. Dulu kurasa mudah, kini aku mulai terengah-engah. Ternyata belum benar-benar padam. Masih ada benang kusut yang menjeratku untuk tetap hidup bersama kenangan.

Doaku selalu yang terbaik untukmu. Untuk kita. 

Post a Comment

Previous Post Next Post