uang
vinaulkonita.com

"Aku lagi bertengkar hebat Yank, nanti aku ceritakan"

Sudah pukul 01.00 WIT, saat sahabatku membuat status di Whatsapp. Sepertinya ia sedang bertengkar dengan pacarnya.

Dulu sahabatku yang cantik itu pernah bercerita kalau ia jadi semakin boros semenjak menjalin hubungan dengan pacarnya yang sekarang.

"Aku tau kondisi perekonomian keluarganya Yank, jadi ya aku sering keluarin uang buat dia"

Mungkin dua atau tiga tahun yang lalu ia putus dari pacarnya semasa SMA. Entah karena permasalahan apa, terlalu rumit. Tak lama berselang ia punya pacar baru. Entah(2) karena memang sudah jatuh hati atau hanya karena butuh orang untuk menemani. Patah hati membuat keadaan semakin sepi dan rasanya ia tak mampu sendiri.

Pacarnya yang baru lucu dan periang mampu membuat sahabatku kembali ceria. Meski bayang masa lalu tak pernah benar-benar pudar. Ia masih mencintai mantannya. Tapi kekasihnya yang baru tak mempermasalahkan itu. Kebetulan mereka juga teman satu sekolah semasa SMA, Mas pacar paham betul kalau sahabatku belum move on.

Akhir-akhir ini mantannya datang lagi. Aku tahu sebenarnya ia mulai goyah menentukan pilihan. Pacarnya yang sekarang cenderung pemalas dan terlalu santai. Belum melakukan apapun untuk mempersiapkan masa depan. Sedangkan sahabatku ingin menikah muda. Impian yang pernah dibangun bersama mantannya.

Di sisi lain, sang mantan seolah memberikan harapan baru ingin menikahinya. Kalau aku jadi dia mungkin juga akan mengalami kebingungan yang sama.

"Pacarku disuruh kerja aja gak mau, kuliah banyak bolosnya. Padahal kan yang penting usaha dulu si Yank. Pokoknya aku tombok terus selama pacaran sama dia. Ya, aku gak apa-apa sih cuma ya gimana sih Yank? Kamu ngerti kan?" kisahnya.

Sebenarnya sang mantan juga sudah punya pacar, hanya saja perempuannya itu tak mau diajak menikah muda. Baik sahabatku maupun mantannya memang belum benar-benar saling melupakan. Mereka masih sama-sama menyimpan semacam harapan jika bisa membangun rumah tangga bersama. Keduanya sama-sama belum move on(2).

Materi

Dan malam ini permasalahan baru pun muncul. Sebuah momentum yang bisa digunakan untuk putus.

"Jadi Yank, pacarku itu chattingan sama cewek dan cewek itu baper. Aku marah-marah dan kelewatan kalau ngomong. Hp yang dia pakai itu kan hpku. Jadi aku merasa berhak dong atas hp itu? Aku bilang ke dia kalau gak mau ngehapus kontak cewek itu kembaliin aja hpku dan itu artinya kita putus. Dan dia sekarang nyari alamat rumahku buat ngembaliin hp."

Sejak awal sahabatku sudah mengeluh mengenai pengeluarannya. Ia jadi tak bisa menabung sejak dengan pacar barunya. Berbeda saat ia masih dengan sang mantan. Ia mulai membanding-bandingkan pacar dengan mantannya.

Setiap orang yang pernah mengalami beberapa kondisi cenderung selalu membanding-bandingkan. Bersama yang ini begini, bersama yang itu begitu. Dan seterusnya sampai tiba pada kesimpulan setiap orang berbeda. Tak ada manusia yang terlahir sempurna kata D'Masiv.

Jika ini berkaitan dengan materi, akhirnya kita tahu mengapa kondisi perekonomian sangat sering menjadi pemicu terjadinya perceraian. Sejak masih pacaran pun seseorang menimbang-nimbang apakah dengan kekasihnya yang sekarang bisa melanjutkan hidup di masa depan? Bagaimana jika kehidupannya kelak ternyata pas-pasan? Sedangkan di luar sana banyak orang menawarkan kehidupan yang lebih mapan? Cinta dan rasionalitas dibenturkan dalam satu waktu.

Apakah lantas seorang laki-laki boleh menyebut perempuan yang seperti itu terlalu matrealistis? Perempuan yang dimaksud tentu menjawab:

"Aku tuh bukannya matrealistis tapi realistis!"

Banyak juga perempuan yang sebenarnya hanya ingin melihat keseriusan seorang laki-laki dari usahanya. Kerja apapun selagi halal silakan lakukan. Perlahan-lahan semoga Allah naikkan derajatnya. Tapi jika sejak awal sudah pemalas dan tidak mau berusaha apapun? Wajar, sangat wajar jika perempuan pergi meninggalkannya.

"Aku mungkin bisa hidup susah karena aku cinta, tapi anak-anakku besok gimana? Aku gak mau mereka malu punya orang tua kayak kita. Aku gak mungkin mau menyengsarakan anak-anakku," begitu kira-kira alasan perempuan ingin memiliki pasangan yang pekerja keras.

Seorang anak tidak bisa memilih apakah ia akan memiliki orang tua yang rajin, sabar dan bertanggung jawab. Tapi kita bisa memberikan orang tua yang ideal untuk mereka dengan tidak salah memilih pasangan.

Penilaian salah atau benar rasa-rasanya cukup sulit. Karena terkadang di awal perkenalan atau masa-masa pacaran setiap orang hanya menunjukkan sisi terbaik dan menutupi sisi paling gelap yang ada dalam dirinya. Begitu menjebak. Sudah berhati-hati pun terkadang masih tertipu.


Hidup memang kadang begitu. Berjalan tak sesuai yang dimau.

Banyak juga teman-temanku yang mengeluh saat berpacaran menjadi cenderung boros-hal yang paling aku takutkan karena  belum memiliki penghasilan sendiri. Pengeluaran yang biasanya untuk kebutuhan sendiri berubah jadi untuk berdua. Untuk jalan-jalan, makan dan lain sebagainya.

Ada salah satu temanku di kos-kosan yang putus saat LDR dan kalimat dari sang kekasih begitu melukainya.

"Aku gak bisa ke rumahmu, aku gak punya uang, uangku habis buat ngerawat kamu dulu. Buat beliin inilah itulah."

Sakit dan cukup menguras air mata. Temanku hanya ingin bertemu karena sudah lama terpisah. Ia sangat rindu. Bahkan ia berpikir untuk menanggung biaya perjalanan kekasihnya itu. Tapi tak disangka jawaban sang kekasih begitu tajam.

Saat masih berpacaran ia tak pernah meminta apapun tapi sang kekasih selalu berinisiatif memberikan macam-macam hadiah. Bahkan tak malu pergi ke toko kecantikan untuk membelikan temanku skincare.

Padahal antar kedua orang tua sudah saling mengenal satu sama lain. Hubungan yang dijalin dalam kurun waktu lima tahun akhirnya kandas menyisakan banyak luka.

Mantan

Saudaraku yang dua bulan lalu menikah sempat bercerita, mantannya tiba-tiba mengirimkan pesan. Kalau tidak salah kejadian tersebut terjadi hanya kurang dari beberapa sebelum hari pernikahan. Ia mengaku mulai goyah dan cemas. Kebulatan tekad yang telah diupayakannya perlahan mencair. Dengan calon suami memang ia tidak berpacaran hanya melalui proses ta'aruf setelah cocok langsung menikah. 

Tapi bersyukurnya pernikahan itu tetap berlangsung. Aku pun ikut lega. Ia kembali teguh pada keputusannya setelah sang calon suami memberikan penguatan. 

Mengapa mantan sering kali datang saat kita mulai beranjak ikhlas? Mantan dengan semua kenangan yang dibawa selalu berusaha menggoda agar kita berjalan mundur ke belakang. Meski juga banyak mantan yang mengajak untuk menuju masa depan. 

Tapi tetap saja, mengapa mantan selalu datang di saat kita sudah bersama yang lain? Mengganggu! (Semoga hal ini tidak terjadi padaku. Tidak tidak, jangan sampai. Memangnya punya? Tidak. Hahaha) 

Dalam kasus sahabatku yang pertama, ia masih begitu berharap kepada sang mantan. Imajinasi tentang indahnya menikah muda selalu terbayang menghiasi kepala. Angan-angannya selalu dipenuhi hidup bersama sang mantan. 

Apakah salah? Terlalu normatif untuk menghakimi benar atau salah. Perasaan tetaplah perasaan, sulit diukur dan tak nyaman jika dipaksakan.

Mantan bukanlah musuh, idealnya begitu. Ia adalah seseorang yang membuat kita hingga menjadi seperti yang saat ini. Ia berpengaruh terhadap perubahan dan pola pikir. Jangan terlalu dibenci nanti luka di hati tak urung mengering. Jangan pula terlalu dirindu, nanti hatimu tak akan pernah menemukan cinta yang baru.


Memilih Pasangan

Jadi harus memilih pasangan yang seperti apa? Yang sesuai kebutuhanmu. Kamu yang cerewet butuh orang yang lebih pendiam. Kamu yang pecicilan butuh orang yang lebih kalem. Bagaimanapun itu disesuaikan dengan kebutuhan diri sendiri.

Aku suka beberapa kalimat ini:

Jatuh cintalah kepada seseorang....
Yang jika marah ia akan merasa menyesal. 
Yang jika diam ia tak akan mendiamkanmu terlalu lama (maksimal tiga hari saja ya hehehe).
Yang jika cemburu sebenarnya karena ia sangat mencintai.

Jatuh cintalah kepada seseorang....
Yang menganggapmu sebagai sebuah keajaiban.
Yang menyanjungmu setinggi-tingginya (jangan terlalu tinggi, kalau jatuh sakit hehehe).
Yang begitu bangga memiliki dan mendapatkanmu.
Yang selalu bersyukur dengan kehadiranmu.
Dan begitu takut kehilanganmu.

Jatuh cintalah kepada seseorang....
Yang bersikap apa adanya dan konyol hanya untuk membuatmu bahagia.
Yang tertawa dan tersenyum tulus mendengar setiap cerita juga lelucon garingmu.
Yang mau memberikan waktu, pikiran juga tenaganya untukmu. 
Dan rela melakukan apa saja untukmu (tetap harus dalam batasan norma okay? hehehe).

Jatuh cintalah kepada seseorang....
Yang selalu kembali meski kamu memintanya pergi (perempuan sering kali begini, meminta ditinggalkan padahal sangat ingin ditemani).
Yang menghapus air matamu, mengembalikan semangat dan kepercayaan dirimu.
Yang menggenggam erat tanganmu saat banyak hal-hal buruk terjadi.
Dan memelukmu saat kamu begitu membutuhkan. 

Bukan berarti kita menuntut seseorang untuk melakukan hal-hal tersebut. Tapi lebih dulu kita yang menjadi seperti itu. Selalu menyesal saat marah dan tak pernah diam untuk waktu yang lama. Jadi sebenarnya kita bisa memilih kepada siapa menjatuhkan hati. 

Aku selalu menyesal setelah marah tapi aku selalu lama ketika mendiamkan seseorang. Minimal sebulan tapi kini sudah berusaha berubah, maksimal tiga hari hehehe. 

Karena kita bukan Tuhan yang tahu isi hati dan kepala orang. Jadi pikirkan hal-hal yang baik dan tetap berhati-hati menjaga hati. Semoga pilihan jatuh kepada orang yang tahu bagaimana caranya menjaga perasaan, menghargai pasangan dan menerima kekurangan.

Kesimpulan

Jika memang materi dapat memicu pertengkaran dan putusanya suatu hubungan, lebih baik didiskusikan saja sebelumnya. Pengelolaan keuangan juga perlu agar keduanya tidak boros-pacaran saja dengan anak manajemen atau anak ekonmi supaya diajari bagaimana cara mengelola uang hahaha.

Istilah "saling melengkapi" jangan menjadi alasan untuk kita berbohong kepada orang tua, meminta uang bulanan tambahan padahal hanya untuk pacaran. Entahlah(3). Karena yang perlu kita pikirkan bukannya hanya tentang masa kini, ada masa depan yang harus dipersiapkan.

Tapi jangan terlalu pelit juga. Karena untuk orang yang loyal berpasangan dengan orang pelit tentu sangat menjengkelkan. Ah, aku yakin setiap orang tahu batas kemampuannya masing-masing. Saling jujur dan terbuka satu sama lain mungkin bisa menjadi solusi. Kalau anak KPI bilang, yang penting komunikasi.

Jika memang belum siap untuk menjalin hubungan lebih baik jangan dulu. Kenapa? Karena hubungan yang dibangun dengan alasan kesepian sering kali berakhir buruk. Kesepian tak bisa menjadi alasan kita untuk mempermainkan hati orang lain.

Salah seorang motivator yang aku lupa namanya berkata, jika kita kesepian carilah kegiatan yang bermanfaat. Mengasah skill, menekuni hobi, memancing atau melakukan kegiatan sosial lainnya. Intinya, jangan karena ego ingin mendapatkan perhatian juga kasih sayang kita menjebak orang lain dalam situasi menyakitkan.

Bapak selalu bilang, aku tak boleh pacaran jika belum bekerja. Mungkin maksudnya agar aku tak membebani pasangan. Jika aku sudah bisa mencukupi kebutuhan sendiri maka tak perlu lagi merepotkan orang lain. Urusan uang adalah perkara sensitif yang jika tidak dihadapi secara dewasa hanya akan menimbulkan pertengkaran. Saling mengungkit kebaikan dan pemberian.

Saat masih cinta-cintanya sih sangat dermawan. Tapi ketika sudah mulai bosan dan sering terjadi pertengkaran, masalah keuangan sering di angkat ke permukaan. Ih menggelikan sekali. Beruntung sejak kecil Ibun selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk tidak suka berhutang. Jika punya hutang lekas dibayar. Aduh, jangan sampai aku masih punya hutang kepada teman-teman.

Berbeda lagi jika untuk keperluan bisnis atau hal-hal yang mendesak. Tapi jangan sampai berhutang hanya untuk memenuhi gaya hidup. Sebelum tulisan ini melebar ke mana-mana aku ingin mengatakan bahwa cinta adalah alasan serta tujuan. Alasan untuk menjadi lebih baik dan tujuan agar menjadi manusia yang baik. Ukuran baik pun selalu kondisional, relatif.

Mungkin seseorang yang tak punya mantan bisa lebih bersyukur. Karena tidak ada yang bisa ia jadikan perbandingan dengan pasangan. Dan tidak ada orang dari masa lalu yang mengganggu ketika memulai hidup baru. Daripada setelah menikah penuh dengan penyesalan mengapa tidak menikah dengan yang si dia saja? Duh ternyata aku salah pilih teman hidup. Dan seterusnya.

Meski sebenarnya penggoda ada di mana-mana. Entah(4) ia orang baru ataupun orang lama. Entah(5) orang yang tak dikenal maupun kerabat atau sahabat dekat. Semuanya berpeluang menjadi pengganggu. Tapi yang selalu kuingat; tamu tak akan masuk jika tidak dibukakan pintu, kecuali ia seorang maling yang berusaha menerobos paksa.

Sebagai penutup, kukutip puisi Kang Maman dalam bukunya "Cinta Itu Alasan Sekaligus Tujuan" yang berkolaborasi dengan Gus Nadir.

Di matamu kutatapkan segala kasih
Di bahumu kusandarkan segala kisah
Di hatimu kutitipkan segenap rindu
Di jantungmu kudegupkan segenap cinta
-Tentang Aku dan Kamu

Jadi kamu pacaran karena sudah mampu atau hanya karena malu diledekin temanmu?

Post a Comment

Previous Post Next Post