Za, bagaimana ini? Aku takut, aku takut Ahmad menyukaiku. Kau tahu Za,  aku lebih suka mencintainya diam-diam.  Sekarang saat menjelang terang, aku malah ketakutan. Bagaimana jika Ahmad terluka karena sikapku? Bagaimana jika aku mengecewakannya?

Za, aku tidak pernah ingin memberikan harapan apa pun padanya. Tapi aku sadar, aku sudah melampaui batas. Aku sudah keterlaluan. Aku lupa menjaga jarak. Aku ceroboh dalam bertindak.

Za, sekarang aku harus bagaimana? Aku masih trauma dengan hal-hal semacam ini. Kenangan buruk itu masih saja menghantui. Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan Za?

Za, aku lebih suka menyayanginya sendirian. Karena dengan begitu aku tidak mungkin melukai hatinya. Lebih baik aku yang tersiksa menyimpan rasa, dia tak perlu ikutan juga. Aku tak akan pernah tega. Aku tak ingin dia merasakan patah hati. Dia baik, dia seseorang yang baik.

Jika tak ingin menyakitinya mengapa tak kau terima saja? 

Karena aku takut ini hanya sementara. Kau tahu Za, aku tak pernah main-main soal perasaan. Kalau aku mencintainya dan dia mencintaiku itu artinya kita harus memperjuangkannya hingga akad. Bukan sekadar untuk haha hihi, aku berpikir untuk membangun sebuah keluarga yang harmonis, dan kalau sekarang aku menolaknya aku pasti menyakitinya. Tapi aku juga tidak bisa menerimanya.

Bukankah yang paling indah ialah perasaan yang terbalaskan? 

Harusnya bisa semudah itu. Tapi kau juga tahu Za,  aku orang yang paling rumit perihal  hati. Aku mungkin bisa mencintainya, tapi aku tak bisa membangun hubungan yang hanya untuk bersenang-senang sementara saja. Aku terlalu kolot soal itu!

Aku hanya khawatir dengan semua hal buruk dalam diriku malah menjadi beban untuknya. Aku kekanak-kanakan, pencemburu, moody dan masih banyak sifat buruk lainnya yang mungkin membuatnya kerepotan.

Kalau memang dia cinta, ya biarkan dia berjuang. Dia pasti menerima semua baik dan burukmu kalau benar cinta. 

Huah, iya seharusnya begitu. Tapi kau juga tahu Za, aku paling tidak suka membebani orang lain. Aku tak ingin kehadiranku malah membawa duka.

Ya kalau begitu bahagiakan dia. 

Bisakah aku? Bisakah aku membahagiakan dia dengan semua pemikiran rumit di kepalaku?

Ya mungkin saja dia akan menjadi orang yang membuatmu menghapus pikiran-pikiran buruk di benakmu. Tolong berikan dia kesempatan. Kurasa, kau gagal bukan karena kau tak baik. Tapi karena kau kalah oleh rasa takutmu sendiri. Kau terlalu cemas dan berpikir yang aneh-aneh tentang masa depan. Kau tidak mengizinkan dirimu sendiri untuk nyaman dan tenang. Kumohon berikan dia kesempatan. Jangan mendahului takdir Tuhan. Jangan terlalu memikirkan hal-hal di luar kekuasaanmu. Ayolah santai sedikit. Jangan takut, aku disini. Kau pasti bisa. 

Terima kasih Za.

Post a Comment

Previous Post Next Post