Aku berkali-kali mengecek jam di hp. Belum waktunya, ini masih pukul 19.30 WIB. Jadwal pertemuanku dengannya masih satu jam lagi. Sambil mematut diri depan cermin, aku bertanya-tanya seperti apa tanggapannya nanti saat bertemu denganku.

Kuhela nafas perlahan dan buru-buru menghembuskannya. Aku gugup tentu saja, ini pertemuan pertamaku dengannya. Setelah sekian lama berteman, baru kali ini kita sengaja menghabiskan waktu berdua. Jika situasinya bukan hanya aku dan dia,  pasti jantungku bisa berdegub lebih tenang.

Kupandangi pantulan diriku di cermin, sepertinya polesan di wajahku tidak berlebihan, baiklah sudah pas, tak perlu cemas. Waktu terasa bergerak begitu lambat. Aku mulai memikirkan topik pembicaraan apa yang kita bicarakan. Hal-hal tentangku tidak pernah menarik untuk diceritakan, mungkin aku akan lebih banyak diam, menyimak cerita hebatnya.

Sambil menunggu aku membaca buku karya seorang alim yang terbilang mahsyur di Indonesia namun tidak ingin dipanggil Kiyai. Setiap halaman yang kubuka mengundang kantuk. Satu dua kali menguap hingga akhirnya terlelap.

Getar ponsel membangunkanku. Aku tergagap, panik segera mengecek jam. Sudah pukul 21.00, seharusnya dia datang setengah jam yang lalu. Segera kubuka Whatsapp siapa tahu dia mengirimkan pesan. Namun nihil, tidak ada satu pun pesan masuk darinya. Ada pesan masuk, tapi bukan dari dia, seseorang yang aku harapkan datang.

Kucoba mengirimkan pesan, menanyakan sudah sampai mana, namun centang satu. 15 menit kemudian aku memutuskan untuk meneleponnya melalui panggilan seluler, bukan dengan Whatsapp karena sepertinya dia tidak online. Detik terus berlalu, ini sudah pukul 22.00, aku mulai gelisah. Sebenarnya sudah gelisah sejak tadi, hanya saja ini lebih panik. Saat waktu menunjukkan pukul 23.30 aku mulai menyerah, baiklah dia tidak akan datang. 

Tiba-tiba saja sesak di dadaku pecah menjadi tangis yang pilu. Dia yang membuat janji untuk datang, namun dia juga yang mengingkari tanpa memberikan penjelasan. Aku pasti bisa menerima apa pun alasan yang dia berikan jika kita memang batal keluar. Tapi dia sama sekali tak mengatakan apa pun. Hatiku terluka. Aku sudah bersiap bahkan satu jam sebelum  waktu yang ditentukan. Aku benar-benar bersiap untuk bertemu dengannya. Namun apa? Dia jahat. Dia tak datang. Dia tak bilang bahwa pertemuan malam ini dibatalkan. Kecewa.

........


Post a Comment

Previous Post Next Post