Untuk bahagia, aku harus mematahkan berapa hati? Untuk mendapatkannya aku harus mengabaikan berapa jiwa? Jadi harus seberapa banyak luka yang kugores di hati orang lain hanya untuk bahagia bersamanya? Berapa?
Goesramban

Aku harap Amar tidak serius dengan perasaannya. Karena aku sedang serius memperjuangkanmu. Tapi, jika kau selalu mengabaikanku, mungkin saja aku segera menghambur ke pelukan Amar, orang baru dalam hidupku.

Entah bagaimana, tapi aku tak banyak mengingat hal-hal tentang kita. Aku bukan sengaja melupakannya, aku memang tidak ingat. Hanya beberapa kejadian kecil yang bagiku berkesan. Selain itu, aku sungguh lupa.

Sebenarnya aku tidak ingin Amar masuk ke dalam cerita, ini terlalu mendadak. Meski mungkin saja ini waktu yang tepat dalam perhitungan Tuhan. Tapi aku sama sekali belum bersiap.

Bu, bagaimana jika Amar punya hati dan niat yang tulus untukku? Inikah saatnya berhenti dari mengejar yang tak pasti? Tapi aku juga khawatir kalau Amar hanya main-main. Tentu aku yang akan berkali-kali lipat lebih terluka.

Mungkin aku terlalu percaya diri. Lebih baik aku mengambil jarak. Aku tidak ingin terlalu dekat. Kita tunggu hingga situasinya bisa terbaca. 

Post a Comment

Previous Post Next Post