Akhirnya aku kembali. Kembali pada sebuah laman yang selalu bisa membuatku leluasa bercerita.

Aku memilih malas menulis karena benda yang paling aku cinta sedang terluka. Aku belum bisa membayangkan bagaimana hidup tanpanya--padahal sudah hampir satu bulan aku tanpanya dan aku masih hidup. Tapi rasanya beda. Menyebalkan.

Untuk yang kesekian tapi, aku tak akan lupa bersyukur hanya karena hal kecil seperti itu. Meski bagiku itu tak sepele. Dia begitu berharga, kepergiannya mematahkan hatiku. Aku bagai petani tanpa cangkul.


Aku merindukannya. Teman yang selalu bisa membuatku merasa lebih berguna setiap harinya. Aku jadi benci menulis, aku jadi malas belajar desain grafis karena ketiadaannya. Jika pun diganti yang baru, aku ingin yang serupa. Mustahil!

Tuhan, plis. Aku malu menangis karena hal sepele. Aku malu meratapi pernak-pernik kecil dari dunia. Aku malu. Tapi aku sedih. Sangat. Aku ingin berhenti mengeluh tentang hal ini. Berusaha tertawa dan tetap baik-baik saja. Entah ini tapi yang ke berapa aku tetap sedih. Ini pilu.

Aku malu menangisinya. Tapi aku tetap menangis. Aku sedih membayangkan bukan dia yang jadi temanku. Aku sedih membayangkan ia digantikan dengan nama yang berbeda. Patah sekali hati ini. 

Post a Comment

Previous Post Next Post