Ku tulis ini ketika masih di Semarang, namun Surabaya indah terbayang.


Surabaya....


Kota pelarian saat Semarang tak lagi menyenangkan. Kota yang ku tuju saat pikiran di kepala begitu membuncah ingin pecah. Karena selain Surabaya, aku tak tahu harus pergi kemana. 

Aku tak mungkin pulang saat dirundung kekalutan. Aku tak mungkin kembali ke pelukan ibu, meski sebenarnya itu obat terbaik. Membagi luka dengannya hanya akan membuatku merasa gagal menjadi anak yang tangguh. 

Aku tak punya kota lainnya untuk dituju. Malang hanya akan membuatku semakin terbunuh oleh kenangan. Jombang hanya akan membuatku semakin tertekan oleh rindu yang menjulang. Bandung hanya akan membuatku semakin bingung dan canggung menafsirkan perasaan. Jogjakarta hanya akan membuatku merana karena di setiap sudutnya membekas cerita lama. Jakarta hanya akan membuat telingaku riuh bising dan akhirnya terasingkan. 

Benar-benar tak ada kota lain, Surabaya adalah jawaban dari setiap kekosongan yang ingin kuisi. Berkumpulnya setiap kenangan dan kekuatan agar terus tegar. Banyak hal di Surabaya yang membuatku merasa tenang seolah tak perlu pulang. 

Karena Surabaya adalah rumah kedua setelah rahim ibu. 

Jika nanti aku tiba di Surabaya dengan segenap luka yang ku bawa. Saat kembali ke kota Lumpia, aku kan membagi tawa dan membuatmu bahagia.

Tak boleh ada pilu. Jika usai biarlah usai, setidaknya semesta merekam dengan baik jika kita pernah saling menyembuhkan lara. Sesuatu yang diawali dengan indah jangan berakhir dengan amarah.

Aku sudah merelakanmu jauh sebelum kau berpamitan. Kau harus hidup dengan lebih baik. Wujudkan yang seharusnya terwujud, jangan pernah menyerah, pun saat kau lelah aku tetap siap mendengar kau berkeluh kesah. 

2 Comments

  1. *agree....aku juga sering lari ke Surabaya jika luka kembali menyapa dan aku tidak kuàt menahan perihnya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Previous Post Next Post