Rindu adalah omong kosong yang paling banyak beredar. Menjamur dan basi karena terlambat ditanggapi.

Beberapa teman baik perempuan maupun lelaki sering bercerita tentang rasa rindunya kepada seseorang. Curhatan tidak jauh-jauh dari, aku kangen sama dia. 

Coba pikirkan jawaban apa yang harus diberikan kepada teman yang sedang merindu? Beruntung jika si perindu bisa menyampaikan apa yang dirasakannya kepada si objek. Namun kebanyakan yang terjadi adalah rindu tak sampai

Aduh aku gak berani bilangnya, kan aku bukan siapa-siapanya

Aku malu

Aku kan cewek gak mungkinlah ngechat duluan apalagi bilang kangen

Dia udah ada yang punya

Aku gak punya akses buat ngontak dia

Gak mungkin banget ujug-ujug bilang kangen, yang ada malah dikira sinting

Dia temenku, kalau dia tau aku kangen dan suka nanti malah ngejauh

Dan masih banyak jawaban-jawaban lainnya. Kalau tidak berani menyampaikan secara langsung, paling banter orang akan update status di Whatsapp dan Instagram. Generasi milenial sama dengan generasi tukang kode! 

Seringkali rindu adalah hasrat yang harus ditahan. Rindu bagi sebagian orang adalah rahasia, harus dipendam, tak boleh ketahuan.  Memangnya tidak sesak? Ya sesak, tapi bagaimana lagi? Sekuat apapun rindu ingin melesak namun keadaan sering tak berpihak. 

Apakah yang kita rasakan adalah sebuah kerinduan? Saat sepi mendadak mengingat masa lalu, saat mendengar lagu seketika galau, ah payah kenapa menjadi manusia yang begitu lemah? 

Coba pahami apa yang kamu rindukan? Kenangan bagian mana? Jangan biarkan hatimu kosong dan memberi celah kepada masa lalu yang seharusnya sudah musnah. 

Rindu ya rindu, tapi jangan dungu! 

Kalau kesepian ya cari teman! Bukannya malah mendramatisir keadaan lalu berkata, aku lelah menahan kerinduan. Hei! Memangnya siapa yang menyuruhmu menahan rindu? Lepaskan saja jangan ditahan-tahan atau disembunyikan terlalu dalam, yang ada batinmu kesakitan. 

Huah, jadi begini, aku hanya tidak ingin sedikit-sedikit kita bergumam, aku rindu, aku kangen, lalu apa? Tidak ada yang dilakukan, hanya bualan semata. Rindu tak lebih dari omong kosong yang sering terucap namun minim tindakan. 

Jangan-jangan kita hanya dipermainkan dengan perasaan. Kognisi dan psikis kita terganggu karena semakin bertambah usia, banyak orang yang datang dan pergi. Ada yang berlalu begitu saja tanpa jejak, tapi ada juga yang entah sengaja atau tidak meninggalkan tapak.

Rindu itu jangan ikut-ikutan, karena terpengaruh film Dilan kita jadi latah merindukan sesuatu yang sebenarnya terlalu bodoh untuk dirindukan. Bukan bermaksud meremehkan, tapi coba bangun ulang pemikiran tentang rindu yang selama ini digaungkan. Benarkah rindu atau hanya sekedar butuh perhatian?

Membuka kamus, rindu berarti sangat ingin dan berharap pada sesuatu. Memangnya apa yang kamu inginkan dan harapkan dari 'dia’? Berharap itu hanya kepada Allah! Hahaha jangan sampai tulisan ini berubah menjadi naskah dakwah. 

Lalu penjelasan kedua, rindu adalah keinginan yang kuat untuk bertemu. Oh ya ingin bertemu? Yakin berani? Sudah usaha apa saja supaya bisa bertemu? Hello! kalau memang ingin bertemu ya ditemui, kalau ada hambatan ya diselesaikan, tidak ada rintangan selain dirimu yang banyak berasalan. Qais saja sambil ngesot untuk bisa bertemu Laila, itupun hanya melihat sekelebat lalu dia berlari dengan kencang hilang ditelan gelap.

Hmmm sejak awal rindu ini bukan membahas tentang rindu kampung halaman atau pelukan ayah ibu. Kita sama-sama tahu, rindu kepada siapa yang dimaksud dalam tulisan ini. 

Mungkin kamus terlalu sempit dalam memaknai rindu. Kamu yang merasa seorang perindu tentu memiliki definisi tersendiri, tersimpan di dalam hati. Atau jika ingin berdiskusi, mungkin kita bisa bertemu, tentukan saja waktu dan tempatnya! (Tidak janji sih)

Pin, cinta adalah secawan madu yang menyebabkan candu, semakin diminum semakin membuat dahaga rindu. Halah pret! Gak usah ngomongin cinta-cinta kalau di luar sana masih banyak orang yang kamu goda. Gak usah ngomongin cinta-cinta kalau setiap 5 menit masih mengeluh rindulah, capek berjuang, sengsara bertahan, dll. Ah cintamu bulshit!

Punya teman yang masih merindukan mantan atau seseorang yang pernah menyakitinya? Aku punya.  Tidak terlalu paham apa yang sebenernya dia rindukan. Rindu disakiti lagi? Ingin mengulang kekecewaan? 

Poinnya adalah, jangan sampai dirimu diperbudak rindu! Merindulah dengan menggunakan akal sehat. Untuk mengelolanya, tanyakan ini pada dirimu sendiri saat tiba-tiba muncul perasaan yang sering kamu sebut sebagai rindu,

Pertama, ketahuilah siapa atau apa yang kamu rindukan. Tanyakan pada diirimu, lakukan monolog, komunikasi intrapersonal. 

Siapa yang aku rindukan? Apa hubungannya dia denganku? 

Apa yang aku rindukan? Momen yang mana?


Kedua, sadari kapan saja, bagaimana keadaanmu dan lingkungan sekitar saat merasa rindu. Lihat jam berapa setiap kamu merasakan rindu. Perhatikan bagaimana keadaan sekitar dan kondisi emosionalmu saat perasaan itu hadir. Mungkin setiap malam di atas jam 10 kamu selalu merasakan rindu, atau saat kamu seorang diri dan ketika mendengarkan lagu, atau saat kamu lewat di tempat tertentu.

Hindari terjebak pada momen-momen yang mengundang rindu datang, jika seringkali rindu membuatmu tak nyaman. Kali ini saatnya kamu menciptakan keadaan yang membuat rindu jengah bertahan. Perkecil sekecil-kecilnya kemungkinan kamu merindukan sesuatu yang ingin kamu lupakan dengan menutup pori-pori kenangan.

Kenangan memang untuk dikenang dan wajar dirindukan, tapi jika hanya menimbulkan kesengsaraan jiwa, lebih baik enyahkan dan mulailah dengan hal baru yang lebih mengasyikan. Buat apa berlama-lama hidup dalam kegalauan yang sangat-sangat merugikan?

Ketiga, pikirkan alasan kenapa kamu harus merindukan sesuatu. 

Kenapa aku merindukannya? Apa manfaatnya? Apakah rinduku mengubah sesuatu? Jadi kenapa aku terus rindu padahal dia bukan milikku? Bisa jadi karena kamu menginginkan sesuatu untuk dimiliki namun yang terjadi tak sesuai ekspektasi.

Keempat, cari pembanding rindu. Pembanding disini ialah alasan kuat yang menyadarkan kita untuk stop merindu. Pembanding adalah kegiatan yang mungkin jika dilakukan kepuasannya akan melebihi dari perasaan rindu itu sendiri. Kerjakan sesuatu bukan sekedar pengalihan sekilas, tapi kegiatan yang ganjarannya membuatmu bahagia dan perlahan bisa membantumu ikhlas menerima kenyataan.

Menyibukkan diri mungkin perlu walaupun saat istirahat kadang rindu menyeruak. Coba begini, ah masa bodoh dengan rindu, semakin dipikirkan semakin menyiksa. Lebih baik rindu tidak usah terlalu diberi ruang untuk dipedulikan, nanti juga dia pergi dengan sendirinya kalau diabaikan. 

......

Satu sampai empat narasi di atas berdasarkan pemikiran sendiri, bukan dari hasil membaca buku atau jurnal. Jadi kalau tidak memecahkan masalah, ya wajar, karena keempatnya bukan solusi. Tidak dipikirkan secara seksama, asal ketik, asal njeplak. 

Apakah merindukan itu salah? Tidak salah, rindu itu wajar. Rindu kepada sahabat, rindu kenangan masa sekolah atau apapun. Hanya saja menjadi tak wajar jika rindu secara berlebihan kepada seseorang yang tak sepatutnya kamu rindukan. 

Berani memaki rindu? Atau takut kualat karena rindu dianggap sebagai sesuatu yang fitrah? 

Hei rindu kamu itu kurang ajar! Kenapa datang tanpa mengetuk pintu lalu dengan pedenya ongkang-ongkang di hati? Tidak juga segera pergi, hei rindu kamu itu bazenggg! 

Menghindari jadi pengabdi setan, lalu kamu menjadi pengabdi kerinduan? Sungguh terpuji jika yang kamu rindukan adalah Rasulullah, nah ini yang kamu rindukan adalah satu orang tak tepat  diantara banyaknya makhluk ciptaan Allah. 

Rekonstruksi ulang rindu perlu pakai nalar jadi tidak hanya mengandalkan perasaan yang seringkali terlalu lembek dan cengeng. Sekali lagi bukan berniat merendahkan rindu, hanya berpendapat. Paling utama ditujukan untuk diri sendiri agar tidak lemah dan mudah goyah hanya karena sebuah perasaan bernama ‘rindu’.

Niscaya seseorang akan terus dihinggapi rindu selagi ia masih bernapas. Dengan pengelolaan dan manajemen perasaan yang tepat, rindu dapat menjadi energi positif untuk terus menjadi lebih baik. Tentukan saja, terus menjadi budak rindu atau menjadi seseorang yang mampu mengendalikan diri. 





Post a Comment

Previous Post Next Post