Sekali lagi aku masih mencintaimu Na. Aku tidak bisa mengistilahkanmu sebagai bulan, bintang,  atau apapun di dunia ini. Aku hanya ingin bilang kalau aku masih mencintaimu. 

Entah pagi yang keberapa, aku masih mengagumimu. Entah hari yang keberapa, aku masih menyayangimu. Entah malam yang keberapa aku masih merindukanmu.
Kamu lebih memilih dia karena apa Na? Dia lebih dariku dalam segala hal? Lebih dulu mana? Kita saling mencintai atau dia datang dengan semua kelebihannya lalu membawamu pergi? Luangkan waktumu lalu tolong jawab pertanyaanku.

Jika kamu pergi karena kesalahanku, maukah kamu memberi kesempatan kedua untukku?

Aku lupa ini hari keberapa aku masih mengharapkanmu duduk bersamaku. Maramaikan hariku dengan canda tawamu. 

Kita sempat terpisah wilayah. Diantara itu datanglah dia. Dia yang selalu ada untukmu, sedang aku jauh tak bisa memandang indahmu. Menemani gundah dan bahagiamu. Maafkan ketidakmampuanku untuk selalu dekat denganmu.

Na, jika esok kamu pulang ke desa, coba lihat tempat dulu kita bermain waktu kecil. Tempat kita menghabiskan hari Minggu dari pagi hingga menjelang magrib. Lalu ibumu akan berteriak memanggilmu untuk segera pulang. 

Decit ayunan kesukaanmu, masih terdengar samar di telingaku. Suara tangisanmu sambil mengadu kepadaku karena ada yang jahil, masih indah berputar di memori. Aku rindu kamu dan kenangan kita. Kamu paling suka main petak umpet, memaksaku untuk sembunyi lalu kamu yang mencari. Jika tidak begitu maka kamu yang bersembunyi dan aku harus pusing mencarimu. 

Na, diantara semua waktu sibukmu tidak bisakah kita bertemu? Kamu yakin menentukan dia sebagai pendampingmu tanpa mempertimbangkan aku? Kamu benar-benar tidak ingin mengubah pikiran sebelum terlambat? Sudah kuatkah kepadanya hatimu tertambat? 

Na, aku bisa menanggung banyak kepiluan rindu. Tapi aku tidak yakin sanggup menahan derita karena kehilanganmu. Apakah cintaku egois? Apakah cintaku tidak ikhlas karena menuntut balas? Apakah cintaku tidak tulus karena memintamu meninggalkannya? 

Sekali saja dia menyakitimu tolong segera berbalik padaku. Aku dengan cinta yang lengkap menyambutmu dengan dekap. Sekali saja dia membuatmu menangis secepat mungkin berlarilah kepadaku, seperti yang kamu lakukan saat kecil dulu. Karena hatiku selalu menunggu.

Menolehlah ke belakang sebentar saja, untuk tahu bahwa aku masih yang dulu. Na, aku mungkin bodoh karena tidak dengan tegas melarangmu jatuh hati kepada yang lain. Pikirku dulu kamu sudah sepakat meletakkan hati di tanganku. Karena begitu yang aku lakukan kepadamu. Sepenuhnya tanpa sisa kuberikan jiwa agar kamu jaga.

Na, jadikan aku rumah untukmu berteduh dan menetap. Jangan hanya sekedar singgah, namun pulanglah.

Post a Comment

Previous Post Next Post