goesramban
vinaulkonita.com
Kerinduanku kepadamu tidak bisa diungkapkan dengan kata. Mendadak aku menjadi letologika. Tidak tahu kata apa yang paling tepat untuk mendeskripsikan perasaanku. Karena kata “sesak” saja tidak bisa melukiskan apapun. Kata “sangat rindu” bahkan tidak mewakili sedikitpun gejolak di dadaku. 

Muslih, aku rindu.

Begitu hatiku bersuara, kadang hanya tercekat hingga tenggorokan tak mampu terucap. Ditenggelamkan air mata. Normalnya wanita akan menyerah bertahan kepada orang yang tidak mampu memberikan kepastian, tapi bukankah kita hanya manusia, kita bukan Tuhan. Tidak ada seorangpun yang bisa memastikan sesuatu.

Malam itu lebih dingin dari biasanya. Telepon berdering memunculkan namamu. Hatiku ikut bergetar. Kamu berpamitan untuk pergi mengembara, memenuhi hasrat haus keilmuan. Tanpa alat komunikasi, tanpa apapun yang membuatmu terhubung denganku,

Aku harus tirakat, batinku memanggil untuk berguru kepada kiyai sesepuh

Begitu katamu waktu itu. Bagaimana lagi? Aku hanya diam, mencerna kalimatmu. Kamu adalah musafir di bumi ini. Jika keputusan itu sudah kamu tentukan, aku bisa apa selain mendoakan yang terbaik untukmu. Kamu seolah ingin menjauh dari dunia dan mencari hakikat kehidupan yang tak melulu tentang gemerlap manusiawi. Kalimatmu masih mengiang di hatiku,

Cintaku diam dalam kata namun riuh dalam doa

Kalimat itu yang menguatkanku. Meski kamu tidak pernah memintaku untuk percaya, tak pernah memintaku untuk menunggumu pulang, namun hatiku masih menetap kepadamu. Aku ingin menjadi seseorang yang setiap harinya jatuh cinta kepada orang yang sama. Kepadamu tentu saja. 

Lima bulan berlalu seperti merangkak, tanpa sedikitpun ku tahu bagaimana kabarmu, kabar kesehatanmu, kabar hatimu. Hari-hari berjalan lambat. Sepertiga malamku lebih senyap, meski sesekali terdengar sesenggukan yang tertahan. Aku nyaman menyampaikan rindu kepada Tuhan. Aku tenang setelah mengungkapkan semua resahku kepada-Nya. Ya Allah, aku begitu merindukannya. Mungkin saja melalui angin malam rasaku sampai kepadamu. 

Saat gundah, ayat-ayat Al-Qur’an menghujam seolah membaca ayat-ayat kehidupanku sendiri. Semoga kita saling mendoakan dari kejauhan. Semoga kamulah kekasih yang Allah tetapkan untukku. 

Aku ingin tenggelam di matamu. Aku ingin berada dalam doamu. Aku ingin tidur dalam hangatnya bait puisimu. Aku ingin melepas dahaga yang selama ini membuatku merana. Cinta adalah tentang saling berlomba untuk membuat sang kekasih selalu bahagia. Aku berlomba dengan rasa lelah, aku belum ingin menyerah, ini tidak akan mudah, mungkin terlalu tinggi harapanku untuk kamu khitbah namun dengan lillah aku yakin ketetapan-Nya yang terindah. 

Selamat malam, semoga di sela-sela tasawufmu ada diriku. Tak apa sekarang kamu tak disini menemaniku meniti hari. Tapi lain kali ku harap kamu yang mengecup mesra keningku untuk membangunkan dari tidur lelap. Menyadarkanku dari mimpi buruk selama kamu pergi, bangunkan aku 10 menit lagi, atau beberapa menit sampai kamu siap kembali dan menjabat mantap tangan ayahku. Sembari menunggu aku akan mempersiapkan diri agar pantas bersanding denganmu suatu hari nanti.

Sekali lagi selamat malam, selamat mengarungi lembah mimpi.


Inspired by true story.

Read : Jangan Lagi Pergi

1 Comments

Post a Comment

Previous Post Next Post