Cukup tahu kalau aku hanya menjadi ide tulisanmu. Kenapa tiba-tiba aku merasa seperti dipermainkan ya? Kamu dengan dunia menulismu yang selalu aku dukung penuh, tapi sepertinya kamu tidak pernah mencintaiku dengan sungguh. Aku hanya menjadi subjek sekaligus objek dalam setiap tulisanmu. Kata teman, seharusnya aku bangga kamu abadikan melalui aksara. Namun entah hanya perasaan atau pikiran negatif aku beranggapan kamu terlalu berlebihan. Bahkan akhir akhir ini kamu semakin jauh dan sibuk merangkai kata. Kamu lupa kalau aku juga butuh keberadaanmu. Aku merasa semakin tidak kamu pedulikan. Kamu lebih banyak berdrama ria agar punya banyak tema cerita untuk diterbitkan. Bukan aku tidak mau memahami, tapi coba ingat lagi kapan terakhir kali kamu membalas pesanku. 

Sekarang aku jadi punya pandangan buruk tentang penulis. Aku hanya bertanya tanya, apakah seorang penulis sejujur tulisannya? 

Sekarang aku kecewa dengan penulis, mungkin karena dirimu adalah seseorang yang sedang menempa diri agar kelak disebut jurnalis. Menurutku penulis hanya romantis dan terlihat lebih bijaksana dalam tulisannya, seolah paling mengerti tentang bagaimana cara mencintai, namun jangankan pengertian bahkan waktu saja tak punya. Bahkan mengungkapkan perasaan secara jujur saja belum tentu bisa. Mungkin aku belum banyak bertemu dengan penulis yang mampu menyesuaikan tulisan dengan perbuatan. Bayangan kebanyakan orang, penulis bergenre romantis tentu baik dalam membina suatu hubungan, atau setidaknya lebih mampu memahami keadaan pasangan. Sekali lagi bukan aku tidak mau mengerti, aku juga tidak bermaksud mendiskriminasi penulis. Semoga kamu paham.

Boleh aku bersuara? Menurutku untuk apa terlalu banyak membual dalam tulisan jika pada kenyataannya tidak selaras? Itu sama saja seperti tong kosong nyaring bunyinya bukan? Hanya banyak bicara namun tidak bisa mempraktikkan. Dalam beberapa cerita tergambar bagaimana seorang tokoh yang dengan segenap jiwa menyayangi lalu ditinggal pergi atau dalam cerita lain tentang dua orang yang saling memperjuangkan. Untuk membuat setiap cerita tentu kamu menggunakan perasaan, mendalami setiap peran. Jadi bukankah lebih mudah untuk memahamiku? Kamu bisa membuat cerita dengan akhir yang menyenangkan, tapi kenapa tidak bisa untuk kisahmu sendiri? 

Aku juga tidak bermaksud menyamakan penulis lain seperti kekasihku. Hanya saja mungkin ada beberapa orang yang berpikiran sama. Bagaimana kisah cintah seorang penulis? Darimu aku tahu bahwa semakin pedih kisah seseorang semakin indah tulisannya. Katamu juga jika seseorang patah hati dan dilukai maka kata-kata yang tertuang lebih dalam untuk dinikmati dan diapresiasi tinggi. Namun untuk apa menjadikan kisah kita pilu jika sebenarnya kita bisa membuatnya jadi bahagia? Kamu ini penulis atau ratu drama? Maaf jika kata-kataku menyakitimu. Semoga semua pikiran buruk tadi hanya prasangka yang salah. Aku pasti senang mendengarkan penjelasan darimu dan aku menunggu itu. 

Sayang, dengan tulisan-tulisan di media sosial, website dan buku, kamu bisa mengubah presepsi orang lain. Lalu kali ini maukah secara nyata kamu mengubah hubungan kita menjadi lebih berwarna? Untuk dirimu dan aku. Untuk kita. Sudah terlalu lama kamu mengabaikanku. Kita harus bicara berdua. Banyak hal yang harus kita tata ulang, menyamakan kembali tujuan yang sempat terlupa. 

Kamu berbakat dalam bidang jurnalistik, beberapa kali memenangkan lomba cipta puisi, cerita pendek dan tulisanmu juga sering dimuat di koran, aku bangga. Sama dirimu yang punya hobi menulis, aku juga punya hobi seperti menggambar, tapi aku tidak pernah menjadikan hobiku sebagai alasan untuk mengabaikanmu.

Cak Nun bilang ketika kita mencintai tak perlu minta dicintai kembali. Lalu Sujiwo Tejo bilang ketika kita merasa berkorban berarti perasaan cinta itu sudah tidak murni lagi. Maaf kalau aku terlalu rasional, menurutku hal seperti sulit untuk dilakukan orang awam sepertiku yang baru merasakan cinta saat bertemu denganmu. Jika dua pernyataan di atas benar maka ajari aku untuk bisa begitu. Belajar mencintai dengan benar. 

Sebenarnya aku lebih ingin kamu mencintaiku dengan perbuatan dan langsung secara nyata bukan hanya dengan kata. Bukan hanya dicintai melalui puisi-puisimu yang romantis. Sekali lagi maaf jika aku tidak memiliki jiwa filsuf. Kamu istilahkan aku sebagai sumber kekuatan, namun tidak satu dua kali kerinduanku dicampakkan. Datang hanya ketika butuh inspirasi untuk menulis, sedangkan aku datang kepadamu setiap waktu karena meyakinimu sebagai tempat pulang dan beristirahat yang tetap. 

Aku minta maaf jika tulisan ini lebih panjang dari normalnya surat cinta seperti yang biasa dicipta. Hanya ingin mengungkapkan perasaan semoga tidak terlalu salah. Jujur aku kebingungan merangkai kata. Selama ini kamu juga tahu kalau aku lebih mudah menyampaikan sesuatu secara lisan. Dan aku juga paham kamu suka mengekspresikan gagasan melalui tulisan. Aku tidak pernah bermasalah dengan hal itu sampai hari ini aku tahu bahwa aku tak lebih dari tokoh fiksi. 

Jika dalam salah satu tulisanmu mengatakan bahwa seseorang yang terlibat dalam kehidupan penulis pasti abadi dalam aksara namun tidak untuk di dunia nyata. Kali ini aku yang meminta, memohon bahkan. Jadikan aku abadi bukan hanya dalam tulisan yang maya, namun pilihlah aku untuk menjadi subjek yang menemanimu meniti kehidupan sampai nanti galaksi tak lagi berfungsi. Aku bukan orang yang ingin dipuja puja melalui bait namun aku ingin menjadi orang yang kamu cinta dengan seutuh jiwa. Maaf jika terlalu banyak meminta. Kata maafku yang berulang supaya kamu tidak pergi setelah membaca ini. Aku tidak mau merasakan sakit kehilanganmu. Merasakan sepi dan mati rasa tanpamu. Aku tidak ingin merasakan kiamat kecil di hati seperti yang teman-teman katakan. Itu sangat buruk, membayangkan tanpa dirimu aku menjalani hari. Pasti hampa. 

Aku rindu bercakap-cakap denganmu. Menikmati seduhan coklat hangat saat senja berangsur sirna. Kita adalah pasangan yang menyukai hal-hal terbalik. Dengan gaya dan karakter yang apa adanya sudah cukup membuat aku bahagia. Aku tidak perlu yang lebih. Aku juga tidak ingin selain dirimu. Kita buat ini lebih simple ya, kamu bicaralah kepadaku lagi. Di sela-sela kesibukan, coba sempatkan untuk mengingatku dan bersedialah meluangkan waktu untuk bertemu. Tidak ada yang lebih baik dari saling berkomunikasi. Kita bukan sedang saling mencintai dalam diam atau hanya dalam doa. Kita sudah sejauh ini melangkah bersama. Muncul berbagai permasalahan dalam suatu hubungan adalah hal biasa. Kita pasti bisa melewati semuanya seperti katamu waktu itu. 

Jangan lupa pakai jaket ketika keluar malam. Udara dingin tidak baik untukmu yang suka begadang. Jaga pola makan, sepenuh apapun jadwal harian, makan tetap jadi hal yang penting. Apa gunanya banyak hal yang harus dilakukan tapi jatuh sakit. Aku tidak pernah bosan mengingatkanmu untuk menjaga kesehatan. Selamat malam semoga hari-harimu selalu menyenangkan.

Post a Comment

Previous Post Next Post