Selalu saja begitu bukan? Dalam setiap pertengkaran, kamu pasti mengakhirinya dengan kata-kata putus. Seolah ingin menyelesaikan semuanya. Yang sebenarnya ingin aku lakukan adalah menyelesaikan masalah bukan hubungannya. Kenapa begitu sulit memahami kemauanku? 

Kamu benar-benar ingin menyudahi perjuangan kita? Aku bisa saja mengatakan “baiklah kita berhenti” tapi mengingat semua yang telah kita lalui, aku kembali berpikir, aku tidak bisa tanpamu. Mungkin kamu sedang sangat marah dan tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku mencoba memahami. 

Sakit setiap mendengar kalimat “ya sudah kita putus saja”, mencoba yakin kamu tidak dengan sungguh mengatakannya. Yang aku heran, mengapa begitu mudah kamu mengatakannya? Lalu semua cerita yang telah kita ukir itu apa? Tidak ada nilainya? 

Setiap aku mengajakmu mendiskusikan beberapa hal, kamu akan mudah emosi, kemudian mengatakan kalimat pamungkas itu sembari pergi. Terkadang aku lelah. Lagi dan lagi aku yang meminta maaf. Tak apa, itu bukan masalah besar. Mungkin kamu butuh lebih banyak pengertian dariku.

Dulu kamu tidak begitu. Hanya akhir-akhir ini saja mulai aneh, sering tidak stabil, mudah sekali marah dan tersinggung. Ada yang berubah. Adakah yang merubahmu? Siapa? Apa? Kamu mulai jenuh? Aku mulai merangkai semua kejadian, sejak kapan kamu tidak seperti biasanya.

Read also : Aku Gagal Paham

Pertanyaanku terjawab saat melihat notifikasi pesan masuk, ada nama yang sepertinya tidak asing, oh iya dia mantanmu. Aku sama sekali tidak berpikir negatif. Hanya tiba-tiba reflek membuka pesannya. Dikunci? Sejak kapan aplikasi telepon dan chatting itu kamu beri password? Mungkin sama dengan password layar kunci, aku mencoba. Tidak bisa? Aku mencoba memasukkan tanggal ulang tahunmu, tidak bisa, lalu tanggal ulang tahun ku, juga tidak bisa, lalu tanggal jadian kita, sialnya bukan itu sandinya. 

Dadaku mulai memanas. Entah bagaimana semua pikiran buruk mulai berkecamuk. Aku menarik nafas dalam, mencoba berpikir positif. Tidak apa, setelah kamu kembali dari kamar mandi akan aku tanyakan apa passwordnya. Mungkin kamu sedang menjaga privasi, berhubung yang ku tahu kamu tidak mudah mempercayai orang lain, bahkan kepadaku sekalipun. 



Dia kembali dengan senyum merekah sambil membawa satu porsi french fries, girang sekali.

Kamu tambah lagi?” tanyaku geli.

Hahaha iya aku lapar dan hanya ingin makan ini” dia menjawab sambil memainkan alisnya, bermaksud menawariku.

Aku sudah tidak ingin makan lagi. Pikiranku hanya fokus kepada pesan dari sang mantan. Aku ingin segera bertanya, tapi urung, melihatnya makan dengan lahap aku takut mengganggu. Setelah dia selesai, aku akan mulai mengarahkan pembicaraan ke hal itu.

Read also : Sepenggal Cerita ( Kepergian dan Kepulangan )

Ku lihat dia begitu asik dengan makanannya dan sesekali melirik ke arah handphone ketika layarnya menyala dan muncul pop up notifikasi pesan masuk. Raut mukanya berubah ketika mendapat pesan dari sang mantan. Aku pura-pura tidak memperhatikan dan sok sibuk dengan makanan yang sebenarnya tidak ku makan.

Aku merasa ada yang tidak beres. Dia seperti sekuat mungkin menahan diri untuk tidak membalas pesan. Mungkin mencoba menjaga perasaanku. Sampai akhirnya telepon masuk. Dia terburu-buru mengambil handphone dan berpamitan untuk mengangkat telepon. Sejak kapan kamu menjauh ketika mengangkat telepon? Pikirku. Namun sekilas aku lihat itu panggilan dari seseorang yang sedari tadi menjadi penyebab cemasku.

Sekembalinya dia, aku tidak lagi dapat membendung berbagai tanya.

Telepon dari mantanmu bukan?” dadaku mulai sesak, mataku mulai memanas.

Ehh” dia  tiba-tiba menjadi gagu.

Sejak kapan WhatsApp mu memakai password? Apa passwordnya?” aku mulai lebih sinis.

Kamu chatting lagi dengan mantanmu? Aku ingin lihat percakapan kalian berdua!” inilah inti pertanyaanku.

Untuk apa?” suaramu menyiratkan posisi yang semakin terpojok.

Ha? Untuk apa? Aku kekasihmu bukan? Aku berhak tahu. Dari dulu kita saling terbuka satu sama lain. Apalagi hanya sebuah percakapan teks” Aku menarik nafas dalam.

Dia terlihat panik. Mencoba menutupi sesuatu.

Oh aku ingat, bulan lalu kita tidak sengaja bertemu mantanmu di acara pernikahan temanmu, dan sejak saat itu kamu berubah. Kamu menjadi lebih mudah marah dan sering meminta putus. Kita jadi sering bertengkar karena kamu mulai mempermasalahkan hal-hal kecil yang sangat sepele. Kamu menjadi mudah tersinggung. Kamu berubah. Sadar tidak?" Mataku mulai berkaca-kaca.

Apa salahnya hanya bersilaturahmi?” Dia berdiri.  Seluruh pengunjung cafe melihat ke arah kami berdua.

“Tidak ada yang salah jika kamu jujur dari awal. Tidak salah jika kamu tidak sembunyi-sembunyi begini. Aku juga tidak pernah melarangmu berteman dengan siapapun bukan? Bahkan dengan mantanmu. Kamu menghianatiku?” Aku ikut berdiri mengimbangi dia yang selalu saja merasa paling berkuasa atas hubungan ini.

Kamu menuduhku selingkuh?” Suaranya meninggi.

Kalau memang tidak selingkuh coba berikan aku penjelasan yang masuk akal” Aku berharap penjelasan yang sepertinya dia tidak mampu memberikannya.

Jika kamu tidak lagi percaya denganku, lebih baik kita putus!” Dengan ketus dia mengatakan hal itu. Terlihat dari wajahnya bahwa dia salah, namun enggan mangakui.

Baik, jika itu maumu, kita putus. Aku tidak akan menahanmu berlama-lama denganku. Ragamu memang bersamaku, tapi hatimu tidak. Aku berhenti. Aku menyerah berjuang sendiri. Selamat tinggal” Aku pergi berlalu meninggalkannya yang malah kaget ketika aku mengabulkan permintaannya. Dia tidak mencoba mengejar dan aku juga tidak berharap dia melakukannya. Aku hanya ingin pergi sejauh-jauhnya. Tidak ada air mata. Hanya sesak di dada. Aku marah. Susah payah meredam emosi agar tidak tumpah.

Untuk apa mempertahankan orang yang ingin pergi. Semakin erat digenggam Ia akan semakin menyakiti. Percuma hanya bersama raga namun jiwanya milik orang lain.

Kisah cinta memang tidak selalu indah. Namun jangan pernah berhenti percaya. Yakin saja jika kita akan menemukan orang yang mau berjuang bersama. Saling menguatkan dan bertahan meski digoda berbagai cobaan, jarak misalnya.

Post a Comment

Previous Post Next Post