Aku gagal memahamimu. Aku pikir kamu sepakat dengan apa yang telah kita rencanakan. Namun baru saja kamu mengatakan tidak tahu apa-apa. Bukankah saat itu kamu yang bersamaku di bawah sinar bulan? Kenapa mendadak seolah tidak ada yang pernah terjadi? Kamu seperti lupa ingatan. Kamu seperti orang lain. Bukan seseorang yang kukenal dengan dekat.

Saat kau datang aku sudah merasa seperti ada yang berbeda. Kau bersama dia. Bagaimana bisa? Aku mencoba berpikir positif, mungkin secara tidak sengaja kalian berpapasan di jalan. Namun semakin dekat, aku terkejut, melihat tanganmu menggandengnya erat. Ha? Apa maksudnya? Gila! Lalu dengan tersenyum dia yang membuka percakapan.

“Kamu juga disini? Kebetulan kami berdua memang suka sekali menghabiskan waktu disini” dengan bangga dan perasaan bahagia dia mengatakan itu.

Lalu kau juga mengangguk, mengiyakan apa yang dia katakan. Apa-apaan ini. Aku tidak sedang ulang tahun. Kalian mengerjaiku? Alisku terangkat, meminta penjelasan darimu. Namun dirimu mengatakan hal yang paling tidak ingin aku dengar.

“Ya, kami baru saja sepakat untuk melanjutkan hubungan kejenjang yang lebih serius” kau tersenyum bahagia, sesekali menepuk halus tangannya yang melingkar di lenganmu, lalu menatap mesra matanya. 

Yang paling mengejutkan lagi, 

“Bagaimana? Ini cincin kami berdua, cantik bukan?” dengan percaya diri dia menanyakan itu padaku, memamerkan berlian mungil yang melingkar dijari manis mereka berdua.

Tidak. Tidak mungkin. Aku ingin berteriak tapi tak mampu. Hanya tercekat sampai tenggorokan. Tidak. Tidak mungkin. Aku kehilangan kata-kata. Kemudian mereka berdua terbahak-bahak berdua, menertawakanku, tawa mereka begitu keras, tidak, aku tidak mau mendengarnya, tidak. Aku menutup kedua telinga dan memejamkan mata. Tidak. Aku tidak mau mendengar dan melihat apapun.

Duk.

“Akhirnya bangun juga, mimpi apa kamu? Ayo sholat malam dulu, sudah waktunya, setelah itu kita sahur bersama” Bunda berkata lembut. Lalu keluar menutup pintu kamarku. 

Ha? Itu Bunda. Aku masih di atas kasur? Aku bukan di cafe? Aw, keningku sakit. Seperti baru saja membentur sesuatu. Jadi? Jadi? Itu tadi hanya mimpi. Sumpah? Hanya mimpi? Oh betapa leganya. Tidak terasa air mataku mengalir. Aku baru sadar betapa aku takut kehilanganmu. Aku terisak-isak seperti anak kecil yang kehilangan permennya. Ternyata melihatmu bersama yang lain adalah kemungkinan paling buruk. Hp ku berdering. 

“Halo!” suara khas yang paling aku kenal.

Read also : Jujur

“Kamu menangis?” sepertinya dia terheran-heran. 

“Ada apa?” masih juga tidak ku jawab pertanyaannya, aku tahu dia penasaran, tapi aku tidak bisa berhenti sesenggukan.

“Kamu bermimpi buruk?” dia seperti tahu hal-hal yang bahkan belum aku katakan.

“Atau kamu merindukanku?” kali ini dia tertawa. Aku masih menangis, semakin kencang. Aku ingin bercerita tentang mimpi burukku. Aku juga ingin bilang sangat merindukannya. Tapi aku tidak bisa. Aku masih sibuk mengatur nafas.

“Iya, iya maaf, kamu kenapa? Segera wudhu, lalu sholat, coba mengadu kepada DIA, nanti ketika sudah lega ceritakan semua” dia menarik nafas pelan.

"Kamu percaya pada merpati? Sejauh apapun dia terbang pasti kembali pulang. Sabar ya, setelah semua urusan di negeri piramida selesai aku akan menemuimu, atau kamu berharap aku langsung menemui kedua orang tua mu?” dia tertawa renyah. Kali ini aku ikut tertawa.



“Akhirnya tertawa juga, kamu jangan terlalu menggemaskan, membuatku semakin rindu, selamat sahur, mau aku tunggu sampai selesai sahur untuk bercerita?” suaranya saja sudah mampu menenangkanku. Hanya dengan suaranya membuatku seketika yakin, jika akulah satu-satunya. Aku hanya terlalu khawatir. 

“Ti..dak, besok saja aku akan bercerita, kamu tidur saja, disana sudah larut” nafasku sudah mulai teratur. Meski ada sisa isakan disana.

“Jangan pernah goyah, jangan pernah berhenti percaya, aku masih seperti yang kamu kenal, aku sudah memilihmu dan akan terus begitu, jangan ragu. Aku tutup teleponnya ya” dia sering sekali mengatakan jawaban dari pertanyaan yang belum aku ucapkan. Dia seperti tahu isi hatiku. 

“Halo! Kamu melamun ya, hahaha” ternyata dia masih disana, belum dimatikan.

“Hehehe iya maaf, iya matikan, besok ketika senggang hubungi lagi ya” aku menertawakan diri sendiri, parah, mudah sekali melamun. 

Jarak memang begitu. Mempermainkan rasa. Mengundang rindu. Namun terkadang tidak menyediakan temu. Iya, aku masih percaya. Aku masih percaya kepadamu.



...........

Read also : Bijak Itu Pilihan


Post a Comment

Previous Post Next Post