Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Ini hari ke 1.460 sejak terang kemudian seketika gelap. Dan kemudian dia tiba-tiba memilih kembali setelah kepergiannya yang tidak sebentar. Menanyakan perasaan yang dulu dia abaikan. Kenapa jadi dirimu yang mengawali percakapan dengan sebuah pertanyaan? Bukankah sebenarnya aku yang memiliki banyak tanya. Seperti mengapa kamu memilih pergi bahkan ketika aku tidak mengiyakan? Mengapa kamu tanpa menengok kebelakang berlalu meninggalkanku? Aku yang memiliki banyak pertanyaan. Aku yang ingin bertanya, mengapa kamu disini lagi? Apa alasanmu pergi dan kembali? Aku bukan hanya ingin tahu, tapi idealnya aku memang harus tahu bukan? Jadi ketika kamu yang membuka pembicaraan mengenai rasa, dengan amarah menggebu aku langsung menjawab tak ada lagi ruang untukmu! Pergilah sebagaimana dulu kamu meninggalkanku! Meski hatiku sakit mengatakan kebohongan itu. Mau bagaimana lagi? Emosiku meluap mendengar kalimat pertama yang kamu ucapkan setelah sekian lama tak berjumpa. Dan dengan lembut kamu berkata "Marahlah. Ungkapkan semua yang dulu tidak bisa kamu katakan, aku disini dan aku akan mendengarkan. Tumpahkan saja semuanya jangan ada yang tersisa."

Dengan mata penuh emosi aku mulai bercerita tentang keadaanku tanpanya. Sesekali mengusap air mata. Satu dua kali menatap tajam ke arah matanya, yang membuatnya kemudian tertunduk.

Kamu tahu? Seberantakan apa aku waktu kamu tinggalkan? Seperti zombi kata mereka yang melihatku. Hidup kehilangan arah. Apa alasanmu pergi begitu saja tanpa peduli apa yang aku rasa? Bukankah sehari sebelumnya kita baik-baik saja? Tidak ada pertanda jika kamu akan membuat keputusan mendadak paling menyakitkan. Kamu sendiri yang mengatakan ketika menatap dalam mata ini, "Aku memutuskan berhenti mencari setelah menemukanmu." Tetapi ketika senja berganti fajar, langit cerah berubah mendung, hey bukankah ini masih terlalu pagi untuk terluka? Ternyata kalimatmu masih menggantung dan belum berakhir, mungkin kamu memutuskan untuk berhenti mencari, tapi kamu tidak mau berhenti menolak gejolak hati yang mengajakmu pergi. Aku benar-benar kepayahan menahan semua benci dan rindu. Aku makin tersayat oleh pertanyaan-pertanyaan. Pedih. Banyak hari telah berlalu, sebanyak itu pula air mataku yang mengalir,  namun air mataku tidak juga mengering. Sesak rasanya kamu tinggal sendiri. Aku habis ditelan rindu. 

Di perbatasan kota, aku berharap kamu hanya bercanda dan segera kembali untuk meminta maaf. Bercandamu kali ini keterlaluan. Namun dua musim telah berlalu kamu tak juga pulang. Aku sadar, kepergianmu akan sedikit lama. Tapi kamu tahu? Aku masih menunggu. Tidak menanyakan waktu. Hanya menunggu dengan tabah bersama kenangan yang kadang disertai gundah.

Hari-hari yang ku lalui tak pernah mudah terlebih saat kamu putuskan sepihak untuk menuntaskan cerita yang bahkan belum dimulai. Aku gila. Frustasi menghadapi hari yang tak lagi sama. Duniaku tentangmu, dan saat kamu pergi apa yang aku punya? Aku terlihat selalu pucat dan berantakan kata mereka. Bagaimana lagi? Aku bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan penampilanku. Aku masih terkejut. Kata mereka aku sering melamun, dan tatapan mataku kosong, tapi ketahuilah pikiranku tak pernah kosong, selalu ada dirimu disana. Terseok-seok menjalani hari dari pagi hingga malam lagi. Setiap sudut kota ini mengingatkanku kepada sesorang yang pernah kucintai dengan dalam, dan masih kucintai dengan tulus pada saat itu. Dirimu sumber semangatku, salah satu alasan aku ingin terus berkarya. Aku telah bersandar kepadamu dan berharap dirimu seseorang yang cukup kokoh. Kamu tempat bercerita, menangis, berduka, dan bahagia. Teman yang tahu sisi paling gelap dalam hidupku. Ternyata aku bukan tempatmu untuk bertahan?

Kamu ingin tahu bagaimana rindu secara perlahan membunuhku? Terkadang pikiranku diracuni oleh hal-hal yang membuatku semakin membencimu tapi pada detik yang sama senyumanmu melintas halus di pikiranku. Membuatku tak bisa membedakan antara benci atau hanya kemarahan karena tak juga bersua dalam susana bahagia. Aku rindu. Sangat rindu. Aku ingin bertemu. Aku hanya ingin kamu kembali dan kamu yang bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Saat di depan makanan favoritku, aku hanya terdiam menatap lekat udara yang tak terlihat, sedetik kemudian air mata menetes. Satu dua bulir air dan kemudian aku benar-benar menangis. Terisak-isak dalam kepiluan. Pernah aku berhasil tertawa bersama teman-temanku, cukup lega bisa tertawa lagi, terbahak-bahak hingga kemudian aku tersadar ternyata mereka sudah berhenti tertawa, "Kamu menangis, bukan tertawa, ini tissu, usap dulu air matamu" ucap salah satu dari mereka. Sefrustasi itu aku. 

Aku masih tidak percaya dirimu begitu tega. Saat perasaan ini sedang indah-indahnya kamu memilih untuk menyudahinya, "Maafkan aku, untuk semua kesalahanku, tolong maafkan aku, hiduplah dengan baik, dan mari kita akhiri semuanya." Semudah itu kamu mengatakannya. Tidak peduli bagaimana aku kesulitan mencerna setiap kalimat yang kamu ucapkan tanpa ekspresi itu. Masih dalam keterkejutanku, kamu membalikkan badan lalu pergi dan tak pernah kembali. Suaraku hanya sampai ditenggorakan, tidak keluar sepatah katapun, padahal aku ingin sekali memanggilmu, aku ingin memohon kepadamu untuk tidak drama. Aku ingin berlari mengejarmu, namun kedua kakiku sudah lemas,  Aku terduduk lalu tergugu, menyadari dirimu sudah hilang bukan hanya dari pandangan namun hidupku. Aku terlalu lambat untuk memahami maksdumu, sehingga aku kehilangan kesempatan untuk menahanmu. Aku menyesali hal itu dan berkali-kali menyalahkan diri sendiri. 

Aku tidak ingat kapan persisnya aku bisa bangkit dan mulai mencoba menerima kenyataan, berdamai dengan harapan yang kamu patahkan. Sejak kamu memutuskan untuk pergi aku berpikir keras apa kesalahanku? Mungkin kamu memilih bersama yang lain? Ataukah cinta yang selama ini kita bangga-banggakan hanya sandiwara? Hanya aku yang berusaha bertahan dan mempertahankan? 

Sekarang bolehkah aku menjawab? Ada beberapa bagian cerita yang tak bisa aku jelaskan alasannya mengapa. Ucapnya setengah memohon.

                                                          ........ To be continued ........





1 Comments

  1. kak kok kakak sekarang jadi galauan gini yaa?perasaan dulu kakak itu cewek paling egepe lo masalah percintaan, hmm mana gapernah cerita2 lg sama temennyaa :p

    ReplyDelete

Post a Comment

Previous Post Next Post